Mendefinisikan Agama: Substantif dan Fungsional

religion

Dalam konteks ilmu-ilmu sosial, mendefinisikan agama sebagai sebuah fenomena merupakan hal yang menimbulkan perdebatan. Perdebatan pertama muncul di level analisis mana seharusnya fenomena keagamaan difokuskan: individu, komunitas, atau institusi keagamaan. Kedua berhubungan dengan pendekatan disiplin apa yang dipakai: psikologi agama, sosiologi agama, atau studi historis.

Maraknya perdebatan mengenai pendekatan apa yang paling tepat untuk mendefinisikan agama sebagai sebuah fenomena memang tidak akan pernah berakhir di dunia akademis. Di sisi praktisnya, perkembangan agama, dalam hal ini adalah religiusitas dan spiritualisme, berkembang pesat bersamaan dengan arus sekularisasi. Munculnya fenomena-fenomena keagamaan baru seperti gerakan jaman baru, gerakan religiusitas baru sampai ke arah radikalisme agama menuntut penjelasan yang lebih konkrit dari para pemikir.

Menyimak konteks ini, ada sebuah karya berharga dalam bidang studi keagamaan yang dirasakan tepat diposisikan sebagai salah satu alternatif jawaban. Inger Furseth dari KIFO Centre for Church Research, Norwegia dan University of Southern California, AS bersama koleganya Pål Repstad dari Agder University College, Norwegia, menawarkan sebuah pendekatan bersifat dikotomis dalam bukunya An Introduction to the Sociology of Religion (Ashgate Publishing Company, 2006).

Seperti yang kita ketahui, sudah ada beberapa disiplin yang bisa dikatakan “mapan” dalam studi-studi keagamaan (religious studies). Psikologi agama, sosiologi, dan studi mengenai sejarah agama-agama sama-sama memerlukan sebuah perangkat konseptualisasi yang kuat untuk menjelaskan fenomena agama di setiap level analisisnya. Untuk menjawab ini, Furseth dan Repstad membuat dua pengertian fenomena agama. Satu pengertian berdasarkan aspek substantif sedangkan aspek kedua merupakan penjelasan berdimensi fungsional.

Dengan merumuskan berbagai definisi tentang agama yang sudah banyak terdapat di ilmu-ilmu sosial dalam dua aspek ini, diharapkan mampu memberikan kejelasan sekaligus tepat dalam menunjuk obyek studi yang akan dilakukan. Apa yang dimaksud substantif di sini mencakup isi atau muatan substantif agama atau keyakinan. Unsur subyektifitas dan konsensus tentu besar di sini. Apalagi jika menyangkut pengalaman atau sentiment-sentimen personal keagamaan yang tidak (atau belum) bisa diverifikasi secara ilmiah. Sedangkan apa yang disebut definisi fungsional mengidentifikasi kegunaan secara praktis atau efek apa yang ditimbulkan oleh suatu agama dan kepercayaan bagi individu dan terutama bagi masyarakat.

Dengan kriteria mendasar tersebut, maka definisi agama yang dikemukakan oleh antropolog Inggris Edward Tylor dan sosiolog Amerika Roland Robertson secara mutlak bisa dimasukkan dalam kategori ini. Tylor (1903) mendefinisikan secara tegas dan ringkas bahwa religiusitas adalah kepercayaan terhadap hal-hal spiritual. Dari kerangka pemahaman Tylor tentang agama muncul suatu proses pencarian jawaban manusia terhadap hal-hal yang belum bisa dijelaskannya, terutama di masyarakat primitif. Kematian, kelahiran, sakit dan fenomena-fenomena alam menjadi dasar manusia mengembangkan suatu kepercayaan sistematis yang kemudian dilabeli agama. Robertson dalam pandangan Furseth dan Repstad juga mengajukan bentuk substantif ketika memahami kemunculan tindakan-tindakan dan kultur agama yang berasal dari perbedaan antara yang empiris dan supra-empiris (realitas transendental).

Definisi fungsional mengenai agama bisa kita jumpai dalam premis mendasar yang menyatakan bahwa agama terbentuk karena manusia ingin menciptakan atau mengkonstruksi makna dan identitasnya. Sosiolog Jerman Thomas Luckmann menempatkan pembentukan formasi “diri” sebagai sebuah proses beragama yang mengembangkan pemaknaan dalam menafsirkan realitas sosial. Definisi yang lebih sempit bisa kita temui dalam pemahaman ilmuwan Amerika Milton Yinger (1970) yang menjelaskan agama sebagai sebuah sistem kepercayaan dan praktik yang dilakukan oleh sekelompok manusia dalam pergumulannya dengan berbagai permasalahan utama kehidupan”.

Dua perspektif, substantif dan fungsional, mengingatkan akan pembedaan atau lebih tepatnya pemisahan oleh William James dalam magnum opusnya The Varities of Religious Experience. Sang pioneer studi religiusitas dari aspek psikologi personal ini membuat suatu pemisahan menarik sekaligus apa yang saya sebut sebagai sumbangsih terbesarnya bagi studi-studi keagamaan dalam kerangka ilmu sosial. James memisahkan secara tegas tentang apa itu penilaian (atau penghakiman) spiritual dengan penilaian eksistensial. Aspek personal dipisahkan dari fungsinya secara praktikal dalam masyarakat. Simplifikasinya bahwa apa yang disebut “dosa personal” belum tentu berkorelasi positif dengan “dosa sosial”.

Dalam perspektif yang lebih luas, harus diakui bahwa pembedaan ini bukanlah solusi mendasar bagi pemahaman yang integratif tentang fenomena keagamaan. Unsur subyektif-obyektif, kemudian intuitif-empiris, serta rasional-irasional, masih belum bisa dipecahkan dan tampaknya menjadi utopia dari sisi akademisi. Belum lagi jika kita memasukkan variabel sosial-budaya masyarakat yang secara normatif akan resisten terhadap pendekatan-pendekatan ilmiah yang diterapkan kepada agama atau kepercayaan. Hal yang sama juga terjadi tatakala mindset akademisi harus diperhadapkan langsung untuk mengakui hal-hal yang diluar (beyond) logika-logika dasar ilmiah mereka.

Tapi harus diapresiasi pula bahwa pendekatan yang bersifat via media seperti ini sangat konstributif dalam memilah-milah aspek keagamaan bagi kepentingan disiplin yang bersangkutan. Dan asas fungsionalitas dan pragmatisme akan tepat dijadikan landasan visi sebuah studi keagamaan. Agama atau kepercayaan apapun yang menimbulkan efek konstruktif dalam masyarakat lebih berfungsi secara sosial daripada sebuah agama atau kepercayaan yang kompleks serta sibuk untuk memenuhi nubuatannya sendiri untuk kepentingan kelompok tertentu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: