Filsafat bagi Dilthey

dilthey-e1364720128948

Muncul dalam khasanah dunia pemikiran Jerman yang kuat corak historisnya, Wilhelm Dilthey (19 November 1833 – 1 Oktober 1911) secara partikular mampu menyajikan pemikiran tentang kehidupan dan yang paling vital: tentang pengetahuan manusia. Yang terakhir ini menjadi sumbangsih terbesarnya bagi dunia pemikiran sampai sekarang.

Fokus kajian pertama, tentang kehidupan, menjadi sangat beralasan jika kita mengikuti jejak filsafat Jerman yang kental unsur refleksinya. Pertanyaan sentral tentang siapakah manusia, apa natur manusia di dunia ini, bagaimana unsur eksistensinya, beserta segala atribut intrinsik kehidupan ini seakan menjadi kurikulum wajib yang harus dijalani para pemikir Jerman. Tapi fokus kajian berikutnya Dilthey tentang natur ilmu pengetahuan, menjadi cukup unik, karena kajian epistemologis (Erkenntnistheorie) selama ini lebih familiar dengan para pemikir Prancis. Akan tetapi pertanyaan ini terjawab tatkala para pembacanya mampu merangkai arus pemikiran Dilthey tentang kehidupan itu sendiri.

Lahir dalam keluarga Protestan, Dilthey yang dikenal gandrung terhadap pemikiran Immanuel Kant dan karya-karya Friedrich Schleiermacher, sempat mengecap pendidikan teologi di Heidelberg, sebelum kemudian tertambat di obyek kajian sejarah dan filsafat setelah kepindahannya ke Berlin. Genre pemikiran Dilthey populer di kalangan dunia pemikiran dengan nama “Filsafat tentang Kehidupan” (Lebensphilosophie).

Mengutip penjelasan dari K. Bertens (2002:96) dalam buku Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, “kehidupan” di sini sangat sentral untuk memahami pemikiran Dilthey karena Dilthey punya asumsi dasar bahwa hanya kehidupan yang sahih menjadi satu-satunya obyek filsafat. Kesahihan ini diperkuat dengan menyebut bahwa tidak ada sesuatu di bawah atau di seberang kehidupan. Dengan kata lain, ia menolak segala bentuk transendensi.

Masih menurut K. Bertens, harus dicatat bahwa penolakan Dilthey terhadap transendensi dan keberpihakannya terhadap unsur-unsur pengalaman sehari-hari tidak menjadikannya seorang positivis (yang serta merta menolak apapun yang tidak bisa diakses oleh panca indera manusia). Buktinya, Dilthey juga melakukan kritisi terhadap positivisme yang cenderung melupakan kayanya konsepsi tentang pengalaman sehari-hari.

Lebih jauh lagi, empirisisme yang dimaksud Dilthey, mengandaikan bahwa manusia merespon pengalaman-pengalaman yang ditemuinya, memakai suatu kategori-kategori kehidupan (nilai, maksud, makna) yang sudah melekat dengan pengalaman itu sendiri. Konsep kategori-kategori ini tentu sangat familiar dengan pemikiran Kantian. Dalam bahasa awam, kategori-kategori kehidupan yang berasal dari generalisasi empiris ini digunakan manusia untuk memaknai kejadian yang dialaminya berdasar proyeksi tertentu. Di sisi ini, kita para pembaca Dilthey sudah bisa mengidentifikasi bahwa posisi metodologisnya berposisi asimetris dengan metodologi dualisme Cartesian.

Alur pemikiran Dilthey akan lebih jelas ketika membahas aspek metodologi berikutnya, yaitu pembedaannya terhadap ilmu pengetahuan alam (Naturwissenschaften) dengan ilmu sosial/humaniora (Geisteswissenschaften). Di sini, Dilthey merangkum kerangka pemikiran hermenutik Schleiermacher dalam apa yang disebutnya sebagai “Lingkaran hermeneutik” yang melibatkan berulangnya dimensi eksplisit-implisit serta dimensi partikular-keseluruhan. Gerak lingkaran ini bagi beberapa pihak cukup membingungkan dan mengundang pesimisme, tapi Dilthey bersikeras bahwa lingkaran pemaknaan inilah yang akan menghasilkan kemajuan ilmu pengetahuan.

Pemaknaan seperti ini yang menurutnya cocok dalam memahami ilmu humaniora. Jika ilmu alam menekankan sisi penjelasan (Erklaren), maka ilmu humaniora menitikberatkan pada sisi memahami (Verstehen). Konsekuensi dari memahami ini adalah diterapkannya hermeneutik melingkar tadi dengan pemahaman mendalam terhadap konteks-konteks (terutama historis) obyek kajian. Pembedaan antara pemahaman-penjelasan ini yang tersurat dalam tulisan Dilthey berjudul Ideas for a Descriptive and Analytic Psychology tahun 1894: “We explain through purely intellectual processes, but we understand through the cooperation of all the powers of the mind activated by apprehension.”

Dasar-dasar pemahaman filsafat kehidupan dan terutama metodologi pengetahuan ini nantinya akan berpengaruh terhadap pemikir-pemikir sesudahnya. Diantaranya Martin Heidegger, Jurgen Habermas, dan yang harus disebutkan adalah patron hermeneutik modern Hans-georg Gadamer yang secara keras mengkritik pendekatan metodologis Dilthey yang dituduhnya kental unsur positivistiknya.

Ada beberapa karya penting Dilthey yang bisa menjadi rujukan lebih lanjut dalam menginterpretasi pemikirannya. Diantaranya adalah Introduction to Human Sciences (1883) yang mendasari pemikiran epistemologisnya. Kemudian Poetics (1887) yang kental aspek psikologis, The Origin of Our Belief in the Reality of the External World and Its Justification (1890), Ideas for a Descriptive and Analytic Psychology (1894), dan The Psychic Structural Nexus (1904). Rangkuman pemikiran Dillthey yang tersebar dalam berbagai teks juga sudah dibukukan dalam Wilhelm Dilthey: Gesammelte Schriften (1959).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: