Pentakostalisme: Potensi dan Kritisi yang Menyertainya

Image

Sebagai sebuah aliran Kekristenan, Pentakostalisme[1], mengalami dinamika yang menakjubkan dari sisi kuantitas, dan menjadikan kelompok ini sebagai salah satu aliran Kristen yang paling berkembang dari sisi kuantitas.[2] Satu alasan ini cukup untuk mewakili kenapa Pentakostalisme harus dikaji secara lebih cermat dan mendalam di tengah berbagai macam varian Kekristenan di Indonesia ini.

Tulisan yang dimaksudkan sebagai pengantar (Mukadimah) ini akan membahas perkembangan faktual gerakan Pentakostalisme, dengan menekankan pada dinamika sejarah, sosial, dan budaya setempat dan pengaruh dalam level global, terhadap perkembangan Pentakostalisme di Indonesia, dan khususnya di Surabaya. Permasalahan kompetensi membuat pembahasan tidak akan mengarah kepada penilaian doktrinal, tapi lebih ke arah fakta-fakta sosial, dan hipotesis mengenai arah perkembangannya.

Identifikasi terminologis

Terlebih dahulu, supaya tidak terjadi kekacauan terminologis, perlu dibatasi dalam pengertian yang sederhana apakah yang dimaksud pentakosta di sini. Pentakosta sebagai aliran mencirikan sebuah kelompok yang menekankan kesalehan hidup (pietisme) dan relasi intim dengan Tuhan. Pemahaman berikutnya mengenai kharismatik, yang juga dalam konteks aliran, adalah kelompok Kristen yang lebih menekankan karunia-karunia Roh Kudus, terutama karunia nubuatan, bahasa Roh, dan kesembuhan ilahi, tanpa meninggalkan corak kesalehannya.

Identifikasi terminologisnya akan banyak membantu kita memahami Pentakostalisme secara lebih luas. Pentakosta di sini lebih dipahami sebagai institusi atau organisasi umat (gereja) dengan berbagai karakteristik khas mereka yang menekankan kesalehan hidup dan pengalaman personal dengan Tuhan, sedangkan Kharismatik lebih dipahami sebagai ekspresi keagamaan yang menekankan karunia-karunia Roh. Definisi Kharismatik ini akan membantu kita memahami kenapa ada umat di luar gereja pentakosta (termasuk Katolik Roma) yang juga bisa diklasifikasikan sebagai “kharismatik”.

Dalam tataran yang lebih makro, ada yang menyebut Pentakostalisme sebagai gerakan revitalisasi. Pew Forum on Religion and Public Life dalam survey tentang Pentakostalisme di 10 negara lebih memilih menggunakan kata kelompok “pembaharu” (Renewalist). Semangat keagamaan secara subyektif “dibangkitkan kembali” melalui berbagai metode ibadat baru, seperti penyembuhan ilahi, atau kuasa-kuasa spiritual lain. Tidak hanya itu saja, Pentakostalisme juga menyediakan ruang berekspresi yang lebih kepada jemaat awam, hal yang tidak mudah kita temui dalam birokrasi Protestan.

Dalam definisi-definisi di atas, secara teoritis bisa dipisahkan mana yang disebut Pentakosta (klasik) dan Pentakosta baru/Kharismatik (istilah yang ditemukan dalam karya sejarawan gereja, Jan Aritonang). Akan tetapi, dalam praktiknya sehari-hari, akan sulit untuk menarik garis demarkasi yang jelas, mana yang disebut kelompok pentakosta, dan mana yang disebut kelompok Kharismatik. Pembedaan atas dasar institusional (gereja) serta afiliasi gereja tersebut dengan lembaga nasional maupun internasional juga tidak akan banyak membantu. Ada sinode gereja pentakosta dan kharismatik yang bergabung ke PGI, ada pula yang masuk PGLII, dan banyak juga yang berada di PGPI.

 

Pentakostalisme sebagai gerakan (movement)

Sebagai sebuah gerakan, Pentakostalisme hadir di Indonesia antara tahun 1919 sampai 1923, melalui karya para misionaris Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Beberapa tempat yang menjadi awal karya para misionaris Pentakosta adalah di Bandung, Temanggung, Ada banyak sumber  yang menyebutkan bahwa yang menjadi pemeluk awalnya adalah para keturunan Indo-Eropa, yang saat itu belum terjangkau oleh para misionaris Protestan sebelumnya.

Dominasi kelompok Protestan dalam konteks pemerintahan kolonial saat itu, sempat menjadi hambatan bagi berkembangnya kelompok Pentakosta. Rintisan pertama jemaat Pentakosta saat itu diinisiasi oleh Rev. Van Loon yang mendirikan komunitas Pentakosta pada 19 Maret 1923 di Cepu. Setelah melalui proses yang berliku, akhirnya otoritas kolonial saat itu, pada tanggal 30 Juni 1923, resmi melegalkan gereja Pentakosta yang saat itu dinamai: De Pinkster Gemeente in Nederlandsche Indie (Gereja Pentakosta di Timur-Hindia Belanda), yang kemudian kita kenal dengan nama Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI). Dari GPdI inilah, cikal bakal, hampir semua aliran pentakosta-kharismatik yang berkembang di Indonesia sampai sekarang. Menariknya, perkembangan gereja-gereja pentakosta dan kharismatik ini diwarnai dengan berbagai skisma/perpecahan dengan berbagai sebab.

Gereja-gereja yang bercorak kharismatik sendiri hadir di Indonesia di akhir 1960-an dan dibawa oleh para misionaris Eropa dan AS. Karakteristik kesalehan yang dibawa cukup menyegarkan situasi rohani kekristenan Indonesia saat itu yang kental dominasi kelompok-kelompok Protestan yang terkesan cukup birokratis, apalagi melihat cengkeraman rezim orde baru saat itu. Seakan genangan air di tengah padang gurun, Pentakostalisme menarik para umat yang “haus” akan siraman rohani baru yang menyegarkan. Menariknya, pentakostalisme berkembang bukan dengan pendekatan atas ke bawah, tapi lebih berakar ketika membentuk kelompok-kelompok doa lokal, komunitas sel, yang disertai kehangatan, dan penekanan terhadap karunia-karunia roh yang sedikit banyak menggerakkan emosi dan perasaan.

Booming Pentakostalisme dengan nuansa kharismatik yang kuat hadir akhir medio 1990-an, atau bertepatan dengan masa reformasi di Indonesia. Sejak saat itu, gereja-gereja kharismatik tumbuh pesat dan mampu menarik banyak jemaat. Disertai pula dengan kemunculan mereka yang intensif di muka public melalui media, dan tak lupa kegiatan-kegiatan berskala besar (seperti KKR) yang menjadi semacam “show of force” setiap gereja di kota-kota besar. Walaupun tidak ada angka pasti berapa pengikut Pentakostalisme saat ini, perkiraan yang paling umum seperti dari Mark Robinson dalam tulisannya “The Growth of Indonesian Pentecostalism” menyebut angka 6,8 juta umat pada tahun 2000 dan dua tahun berikutnya sudah mencapai angka 12 juta.

Pentakostalisme a la Indonesia

Tren perkembangan pentakostalisme di Indonesia, khususnya di Kota Surabaya, tak bisa kita lepaskan dari perkembangan pentakostalisme secara global. Tak dipungkiri, gelombang perkembangan Pentakostalisme, terutama dengan karakteristik kharismatik yang kuat, sudah bisa dikategorikan suatu revivalisme kekristenan abad 21.

Ada beberapa karakteristik menarik tren Pentakostalisme di dalam konteks Indonesia, dan Surabaya secara khusus. Pertama adalah diterimanya unsur-unsur religiusitas khas kharismatik oleh umat Kristen Indonesia secara umum. Jika lebih dispesifikkan lagi, nuansa-nuansa spiritualitas, yang seharusnya terminimalisir dalam masyarakat industrial modern, seperti keberadaan mukjizat, keadaan emosional mendalam yang mengarah kepada pengalaman non-ragawi (trance?), serta kepercayaan mereka yang mendalam terhadap figur-figur kharismatik, malah menjadi ikatan pemersatu. Berbagai perdebatan dan hipotesis yang beredar untuk menjawab kenapa kepercayaan-kepercayaan ini kompatibel dengan masyarakat Indonesia secara umum secara umum belum memberi jawaban yang memuaskan.

Kedua, tren pentakostalisme membawa pula rumusan mengenai figur-figur yang bersifat Kharismatik sebagai pimpinan, role-model, dan sekaligus seorang solidarity-maker. Konsepsi ini tidak terlalu asing, karena pentakostalisme global juga memunculkan konsep pemimpin kharismatik disertai apa yang mereka sebut sebagai konsep “Mega-Church”. Dengan kata lain, tren Pentakostalisme di masyarakat (urban) Indonesia akan selalu mengacu kepada tren yang terjadi di masyarakat internasional.

Ketiga, dominasi etnis Tionghoa dalam gerakan Pentakostalisme, terutama di kawasan urban.  Menjadi cirri khas yang memunculkan sebuah konsep “teologi kesuksesan/kemakmuran”. Walaupun terkesan menyederhanakan, tapi konsep ini mampu menjelasan kenapa Pentakostalisme di masyarakat urban didominasi oleh kelas ekonomi menengah ke atas, seperti komunitas warga Tionghoa. Tapi yang perlu dicatat, fenomena ini tidak mutlak. Seperti yang dijelaskan oleh Prof. William Kay, penulis buku “Pentecostalism: A Very Short Introduction” (2010), dalam forum di CRCS-ICRS UGM, Pentakostalisme di kawasan non-urban, dalam konteks ini di wilayah pedesaan Indonesia atau pedalaman, lebih menunjukkan pengembangan teologi yang eskapis. Dua “wajah” pentakostalisme ini setidaknya mampu memberi jawaban instan kenapa aliran ini cukup berhasil menarik umat Kristen Indonesia.

 

Apa yang sama, apa yang beda?

Apa yang sama dan apa yang beda di sini dalam konteks jika kita membandingkan Pentakostalisme di Indonesia dengan Pentakostalisme global. Pentakostalisme Indonesia mempunyai kekuatan dalam menerjemahkan karunia-karunia yang bersifat spiritualitas

Perbedaan paling mencolok jika dibandingkan secara apple to apple dengan Pentakostalisme global (barat) tentu saja adalah konteks sosial budayanya. Dominasi etnis Tionghoa dalam gereja-gereja kharismatik perkotaan menjadi ciri khas di Indonesia dan Malaysia. Di negara asalnya, AS, gerakan kharismatik memang muncul dalam komunitas masyarakat kulit hitam, kemudian mengalami transformasi sehingga bisa diterima secara global.

Perbedaan berikutnya adalah Pentakostalisme di Indonesia belum mengeksploitasi misi sosial sebagai ekspresi utama keagamaannya secara eksternal. Donald E. Miller & Tetsunao Yamamori (2007) dalam bukunya “Global Pentecostalism: The New Face of Christian Social Engagement”, menunjukkan tren bahwa Pentakostalisme global memperlihatkan tren misi sosial yang sangat massif dan perlahan mengikis stigma bahwa Pentakosta hanya sekadar kumpulan orang Kristen yang beribadah penuh roh kudus yang berbuah bahasa roh, kegirangan berlebihan, disertai penyembuhan ilahi serta sangat menekankan kehidupan di surga (heavenly-minded), sehingga melupakan realitas sosial di sekitarnya.[3]

 Potensi & kritisi

Dengan berbagai karakteristik dan predikat yang disandang para pemeluk Pentakostalisme di Indonesia, terutama di Surabaya, ada beberapa hal yang bisa kita identifikasi dalam konteks potensi dan sekaligus kritisi. Pertama, secara kasat mata, fakta sosial menunjukkan Pentakostalisme mampu menarik minat para generasi muda Kristen, terutama di wilayah urban. Keberhasilan mereka menghimpun dan mengorganisir kaum muda berbanding lurus dengan kemampuan gerakan-gerakan Pentakostalisme melakukan penetrasi yang efektif dengan memakai kemajuan teknologi dan informasi. Di sisi umat, para generasi muda secara umum juga merasa kompatibel dengan kemasan ibadat yang bernuansa budaya pop kental. Dengan kata lain, gaya hidup kaum muda perkotaan mereka terakomodasi secara sempurna oleh Pentakostalisme.

Kedua, potensi sumber daya ekonomi dan modal sosial yang dimiliki oleh gerakan pentakosta. Stigmatisasi bahwa Pentakosta adalah “spirit-inspired Christian”, tidak menghilangkan potensi bahwa loyalitas terhadap kepercayaan mampu membentuk sebuah jaringan yang kokoh. Dengan kata lain, preferensi terhadap Pentakostalisme juga berbanding lurus dengan kehidupan duniawi mereka.

Ketiga, dominasi kelompok tertentu dalam Pentakostalisme di satu sisi merupakan kekuatan tapi di sisi lain juga menimbulkan problematika tersendiri tatkala berbicara mengenai kepentingan yang lebih luas. “in group feeling” dikhawatirkan bisa  melambatkan usaha-usaha integrasi nasional. Indikasi ini terbaca melalui menguatnya usaha-usaha memperkuat sekat-sekat itu di bidang pendidikan. Hampir semua sinode-sinode pentakosta besar mempunyai lembaga-lembaga pendidikan yang ditujukan untuk kepentingannya sendiri.

Dan yang terakhir, perkembangan Pentakostalisme di Indonesia juga harus selalu mempertimbangkan klaim-klaim bahwa telah terjadi pertumbuhan jemaat yang spektakuler. Perpindahan agama dari non-Kristen menjadi Kristen (proselitasi) harus menjadi konsep yang terus selalu dievaluasi dan dibandingkan secara seksama dengan fenomena perpindahan gereja atau sinode dalam Kekristenan itu sendiri (reafiliasi religious).


[1] Penggunaan terminologi “pentakostalisme” di sini merujuk kepada aliran-aliran kekristenan yang mengafiliasikan dirinya dengan aliran pentakosta, kharismatik, maupun, pentakosta-kharismatik. Kata “pentakosta” sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti hari yang kelima puluh, merujuk kepada peristiwa turunnya Roh Kudus.

[2] Berdasar data World Encyclopedia of Christianity, di tahun 1970 hanya kurang dari sepuluh persen jumlah penganut Pentakosta. Tapi diprediksikan pada tahun 2025, sepertiga dari jumlah umat Kristen di dunia ini akan mengidentifikasikan dirinya sebagai penganut pentakosta.

[3] Yamamori dan Miller menyebutkan tren keterlibatan sosial di Asia contohnya adalah  City Harvest Church, gereja terbesar di Singapura yang memiliki 13.000 anggota dan mayoritas pemuda, menjalankan proram-program sosial bagi para penghuni penjara, pengidap AIDS, dan kelompok terbelakang mental di sana. Di India, The Assemblies of God Church menyediakan fasilitas pendidikan bagi 16.800 orang dan rumah sakit bagi sekitar 70.000 masyarakat pertahun di Calcutta, dimana sebagian besar merupakan pemeluk Hindu.

* Pengantar diskusi “Pentakostalisme”, GMKI Cabang Surabaya Komisariat ITS, 22 September 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: