Lia Eden

 

liaeden

Familiar dengan nama ini? Jika anda seorang religius beraliran konservatif maka cepat lupakan nama ini karena bisa memancing emosi. Tapi jika anda tipe orang yang berpikiran terbuka, maka Lia Eden akan menjadi kajian dinamika keagamaan yang sangat menarik.

Lia Eden, perempuan kelahiran Surabaya, 21 Agustus 1947, menjadi tajuk utama media massa nasional medio akhir 1990-an karena membuat suatu komunitas keagamaan bernuansa sinkretisme. Komunitas yang terkenal dengan nama Komunitas Eden. Komunitas Eden atau jika menggunakan nuansa feodal, Kerajaan Eden, mempunyai sisi sinkretisme yang kuat. Yang menarik, sentralitas religiusitas Eden bukan kepada sosok absolut pribadi tuhan, atau kumpulan oknum adikodrati lainnya, malah sosok malaikat Jibril (Gabriel) yang menjadi fokus pemujaan komunitas ini.

Jibril dipandang sosok yang punya latar belakang religius Islam ini memiliki peran khusus sebagai penyampai firman dan wahyu tuhan. Penggunaan kata wahyu di sini harus dipahami dalam konteks agama-agama samawi (Yudaisme, Islam, dan Kristen) mengingat agama-agama atau kepercayaan sebelum Yudaisme tidak menekankan konsep wahyu sebagai perantara yang profan dan yang sakral.

Sosok Lia Eden sendiri, sebagai seorang pemimpin kultus, sangat mencolok dan di mata pengikutnya pasti punya kharisma yang tinggi. Masih ingat kostum kebesaran yang dipakainya? Pakaian kerajaan serba putih, seakan menguatkan kembali simbolisasi warna putih sebagai warna kerajaan, juga takjarang mengenakan mahkota mini layaknya pewaris kerajaan sorgawi, dan tongkat kekuasaan yang selalu berdentang karena loncengnya bersahutan.

Pada suatu ketika, Lia Eden, yang masih dalam bimbingan rohani guru spiritualnya, mengaku mengalami suatu peristiwa keagamaan personal yang bersifat ekstase/ekstasis. Meminjam konsepsi Max Weber yang juga dipakai Karen Armstrong untuk menjelaskan kondisi religiusitas, ekstase di sini merujuk pada suatu kondisi tecerabutnya pikiran atau kesadaran seseorang yang dipicu suasana kebahagaiaan untuk tujuan yang bersifat religius dan komunal.

Perjumpaan dengan kuasa adikodrati ini yang kemudian membentuk sebuah proses “pewahyuan baru” menurut Lia Eden. Dia mengaku dibimbing sang malaikat Jibril itu sendiri dan diberi pencerahan bahwa jalan penderitaan akan segera dijalaninya ketika menghadapi dunia yang menolak keberadaannya. Narasi yang mirip dengan perjalanan Yesus yang ditolak oleh orang pada jamannya karena mengaku mesias. Apakah peristiwa ini benar-benar terjadi atau tidak tentu menjadi kontroversi tersendiri yang tentu saja sulit dikonfirmasi. Dalam komunitas Kristen yang bersifat Kharismatik, kondisi-kondisi yang mirip dengan apa yang dialami Lia Eden adalah suatu hal yang cukup lumrah mengingat penekanannya terhadap fungsi “kharisma” yang cukup vital.

Satu hal penting yang juga sudah disinggung di atas tadi adalah keberanian Lia Eden melakukan harmonisasi berbagai aliran keagamaan besar. Tindakan yang lebih sering kita labeli sebagai sinkretisme ini bercampur dengan mitos-mitos lokal. Entah ini suatu tindakan konyol atau ide yang brilian, yang pasti Lia Eden mampu menyusun sebuah narasi inter-religiusitas baru.

Lia Eden mengklaim dirinya adalah sang mesias yang bertugas membawa keadilan sebelum hari akhir tiba. Mesias yang disebutnya bukanlah sosok Yesus yang dipercayai oleh umat Kristen, Lia Eden tampaknya lebih suka sang Mesias seorang yang feminim, maka Bunda Maria, ibunda Yesus, dirasa Lia Eden sebagai sosok maternal yang tepat. Posisi Yesus atau Isa sendiri menurutnya telah diwariskan kepada sosok anaknya, Ahmad Mukti. Klaim-klaim ini cukup kuat untuk melekatkan juga label filsafat keagamaan perennial (yang menganggap semua agama dan kepercayaan dari sumber yang sama) walaupun samar-samar dan terkesan dirancukan oleh tujuannya.

Karakter umum pandangan sinkretis yang memunculkan harmonisasi inter-religius hanya tampak di awal, karena maklumat berikutnya akan lebih bersifat destruktif, yaitu melenyapkan agama-agama besar yang telah mapan karena kegagalannya mencegah berbagai masalah kemanusiaan, seperti perang, kerusuhan, kemiskinan, dan berbagai penyakit yang melanda dunia. Di sinilah titik tolak rasionalisasi religiusitas Komunitas Eden terhadap kondisi dunia.

Aspek-aspek lain dari komunitas yang juga memakai nama Salamullah ini tidak terlalu menarik untuk dibahas karena karakteristik yang umum terjadi. Seperti bagaimana sentralitas posisi Lia Eden sebagai pemimpin kultus, atau motif religiusitas seratusan jemaah Lia Eden yang datang dari berbagai penjuru nusantara.

Tantangan yang harus segera dijawab oleh komunitas keagamaan di Indonesia bukanlah memperkuat sisi legal-formal berbagai peraturan yang akan menghalangi komunitas-komunitas semacam ini. Reaksi paling bijak mungkin adalah memahami bagaimana komunitas-komunitas, yang kemudian nantinya akan dilabeli sebagai sekte atau kultus, muncul dan berkembang. Berbagai tinjauan dari sisi ilmu sosial dan ilmu agama sudah menyajikan banyak data yang berlimpah dari berbagai penjuru dunia. Mulai dari yang bersifat agama-agama lokal, sampai yang berperilaku radikal (seperti Aum Shinrikyo), semuanya muncul sebagai reaksi atas kondisi duniawi di berbagai konteks sosial mereka.

Kesimpulan sementaranya adalah femonena kultus atau sekte keagamaan tidak akan bisa dibatasi karena menyangkut ekspresi keagamaan yang sangat bersifat personal. Sisi personalitas ekspresi keagamaan ini sudah coba dijelaskan oleh William James (1902) dan dalam pandangan pragmatisnya, penilaian yang bersifat nilai dalam suatu komunitas keagamaan seringkali melampaui penilaian eksistensial (ilmiah). Dalam bahasa yang lebih sederhana, apapun ekspresi keagamaan suatu komunitas atau pribadi, jika itu dipandang sarat nilai atau fungsional secara kelompok, maka penghakiman-penghakiman yang bersifat ilmiah (rasional) tidak lagi menjadi bermakna.

Jika menerapkannya dalam konteks Indonesia, maka kungkungan-kungkungan legal dengan memakai jeratan pidana tertentu tidak akan efektif membendung kultus-kultus berkembang, walaupun kebanyakan memilih bergerak dalam bayang-bayang “agama-agama resmi”. Di sinilah perlunya mendefinisikan kembali pemaknaan istilah-istilah penting: apa yang dimaknai sebagai agama, apa yang disebut sebagai kultus, apa yang diklasifikasikan sebagai kelompok kepercayaan, dan apa yang kita pahami sebagai sebuah sekte. Indikator utama yang dipakai menentukan sebutan-sebutan tersebut, kualitas (fungsionalitas) atau kuantitas (jumlah pengikut). Apa benar yang kita sebut agama sekarang adalah sekte yang berhasil (menjaring banyak massa)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: