Durkheim

 

Emile-Durkheim-672x250

Satu dari sekian banyak kajian Emile Durkheim (1858-1917) di bidang sosiologi adalah tentang agama. Hal yang membuat karya Durkheim tentang agama menjadi spesial adalah orisinalitas kajian serta keberaniannya untuk merangkum esensi agama sebagai bagian dari sebuah masyarakat. Inilah yang membuat perspektif Durkheim tentang agama dan kepercayaan akan tetap menjadi basis mainstream.

Lahir dalam suasana pergaulan Yahudi dan mendapat pengaruh dari lingkungan Katolik Prancis yang sedang bergolak karena Revolusi Prancis, Durkheim memulai analisis sosiologinya dengan beberapa konsep kunci, seperti empirisme ilmu sosiologi serta fakta-fakta sosial. Sisi empirisme atau penekanan keilmuan dengan landasan faktual sangat terlihat dalam karyanya Suicide (1897). Bahkan karyanya ini disebut-sebut sebagai karya empiris pertama di sosiologi. Sedangkan konsepnya tentang fakta sosial dilandasi suatu pemahaman bahwa ada suatu struktur eksternal, di luar manusia, yang punya kekuatan untuk mendeterminasi perilaku individu maupun kelompok.

Salah satu fakta sosial, yang bersifat non-material, adalah agama atau kepercayaan. Secara ringkas, pandangan Durkheim tentang agama adalah sebuah kesatuan kolektif dan integral yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Agama dan masyarakat adalah satu. Agama adalah cara masyarakat memperlihatkan dirinya sendiri dalam bentuk fakta sosial non-material (Ritzer & Goodman, 2003).

Untuk lebih memahami pendefinisian agama dari Durkheim di atas, kita bisa merujuk pada karya terakhirnya The Elementary Forms of Religious Life (1912). Di buku ini, Durkheim menjelaskan bagaimana masyarakat primitif menemukan, atau lebih tepatnya, mengkonstruksi sistem kepercayaan dan agamanya.

Kata kunci dalam memahami The Elementary ini adalah fungsionalitas agama dan kesadaran kolektif. Fungsionalitas agama sangat kental ketika menjelaskan dikotomi antara masyarakat berbasis solidaritas mekanik dengan masyarakat berbasis solidaritas organik. Agama yang termanifestasi secara awal dalam masyarakat tradisional yang mengikat diri secara mekanis, menjadi instrumen penting dalam perubahan masyarakat tersebut ke dalam fase organis. Agama menghasilkan sebuah kesinambungan sejarah sekaligus, apa yang disebut Weber, rasionalisasi tindakan. Terlebih lagi, jika agama sudah bermanifestasi dalam masyarakat, bentuknya bukan lagi sebuah sistem kepercayaan atau serangkaian nilai saja, tapi mengalami proses institusionalisasi menjadi sebuah lembaga yang kokoh, yang mengiringi proses integritas dan perkembangan masyarakat tersebut.

Sedangkan konsep kesadaran kolektif (collective conscience) sebenarnya sudah digumuli Durkheim sejak The Division of Labour in Society (1893). Secara sederhana kesadaran kolektif bisa dipahami sebagai sebuah penyatuan individu-individu atas dasar ikatan atau identitas tertentu dan mempunyai cara pandang yang sama dalam hidup. Dan fungsi tersebut, ditekankan lagi oleh Durkheim, terdapat pada agama.

Dalam The Elementary, kajian awal yang mendasari pemikiran Durkheim adalah sebuah sistem kepercayaan yang disebutnya totemisme di Australia. Totemisme disebut sebagai agama yang paling sederhana dan paling primitif yang diketahui orang pada masa kini. Dari totemisme ini, Durkheim mendapati bahwa landasan setiap agama adalah adanya kepercayaan akan dua kelas, dua dunia, yaitu yang sakral dan yang profan. Dan menariknya, dalam temuan Durkheim, kepercayaan totemisme ini nantinya turut pula membentuk struktur masyarakat atau organisasi suku. Ketika struktur dan organisasi terbentuk, otomatis kepercayaan terhadap yang sakral itulah yang juga telah mengikat individu-individu dalam kelompok tersebut.

Posisi Durkheim dalam menilai relasi antara agama dan masyarakat cukup jelas di sini, walaupun sering disalahpahami. Seperti pembacaan sosiolog Inggris, Anthony Giddens (1986), Durkheim tidak mengatakan bahwa agama menyatakan masyarakat, tapi ia, dalam posisi idealis, menyatakan bahwa agama merupakan pengungkapan dari swa-penciptaan, perkembangan otonomi dari masyarakat manusia.

Di titik ini, kita mendapat masukan berharga dari Durkheim bahwa agama (bisa) menjadi faktor yang konstruktif dalam pembangunan masyarakat. Kohesi dan integrasi sosial bisa diwujudkan melalui agama dan kepercayaan. Kemudian, tantangan zaman yang harus dijawab oleh kita semua adalah, dengan berubahnya formasi agama dalam masyarakat yang disertai pluralitas ajaran agama dan kepercayaan, masih bisakah fungsionalitas agama tersebut diwujudkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: