Mengukur Jarak Sosial dengan Skala Bogardus

 

??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Bagi mereka yang akrab dengan penelitian sosial di suatu pasti memerlukan sebuah alat untuk mengukur bagaimana tingkat atau suasana relasi antar kelompok satu dengan kelompok lainnya. Indikator-indikatornya sudah dibakukan dan menjadi semacam “trademark” yang membantu para akademisi mengembangkan skala ini sesuai dengan konteks penelitiannya.

Adalah Emory S. Bogardus (1882-1973), sosiolog Amerika Serikat, yang membakukan konsep penjarakan sosial ini. Satu diantara banyak karyanya dalam kajian sosiologi adalah penelitian tahun 1925 tentang jarak sosial yang ada di masyarakat Amerika Serikat saat itu. Mulai dari situlah Skala Bogardus ini dibakukan dan menjadi indikator penting dalam penelitian-penelitian yang serupa.

Konsep jarak sosial (social distance) mencoba mengukur dekat-jauhnya suasana psikologis antara satu individu yang diklasifikasikan dalam suatu kelompok tertentu dengan individu-individu dari kelompok lain. Terminologi kelompok di sini juga harus dijelaskan lebih lanjut karena akan sangat luas sekali spektrumnya, mulai dari identitas kewarganegaraan, agama, suku, ras, klan, dan latar belakang sosial yang lain.

Pemahaman lain mengenai jarak sosial bisa kita dapatkan dari Doob (1985) yang menjelaskan bahwa jarak sosial adalah perasaan tertentu yang memisahkan individu atau kelompok dari kelompok lain dengan suatu tingkat penerimaan tertentu (terhadap atribut-atribut yang melekat pada kelompok lain tersebut).

Asumsi dasar dari skala Bogardus ini adalah kedekatan (closeness) sosial yang berwujud fisik dan emosional (perasaan) adalah kunci utama dalam memahami hubungan sosial, terutama dalam konteks makro. Singkatnya, sekelompok individu akan dinilai perasaan dan kesediaan fisiknya apakah mau melakukan partisipasi sosial dengan individu lain yang punya identitas berbeda.

Ada tujuh indikator utama dalam skala Bogardus yang menggunakan karakteristik skala Guttman ini: menerima orang lain tersebut sebagai kerabat/saudara dekat melalui pernikahan, atau juga bisa diaplikasikan secara lebih mendalam sebagai kesediaan menerima orang lain tersebut sebagai pasangan hidup; sebagai teman dekat; sebagai tetangga di jalan atau blok yang sama; sebagai rekan satu kantor/satu tempat pekerjaan; sebagai sesama warganegara; sebagai pengunjung di negaranya; dan terakhir adalah bersedia atau tidak untuk mengusir mereka dari negaranya.

Tujuh indikator utama ini kemudian sering dikembangkan lagi sesuai dengan konteks tema atau wilayah penelitiannya. Penelitian yang berbasis masyarakat urban misalnya akan menambah instrumen pertanyaannya dengan indikator apakah menerima orang lain sebagai partner bisnisnya atau kesediaan bergabung dalam sebuah kelompok hobi atau komunitas yang sama. Untuk keperluan penelitian agama, instrumen yang sering ditambahkan adalah apakah menerima kelompok agama lain mendirikan tempat ibadah sampai menjadi pemimpin publik di tingkat pemerintahan.

Skala Bogardus ini menjadi sangat penting tatkala indikator-indikator yang semakin jauh dari poin 1 menunjukkan bahwa potensi konflik antar kelompok masyarakat yang biasanya bersifat horisontal sangat besar. Karena itulah penelitian yang menggunakan Skala Bogardus ini seharusnya melakukannya secara berkala dengan tentu saja mengembangkan instrumen-instrumen pertanyaan yang digunakan.

Penggunaaan Skala Bogardus yang paling dominan adalah dengan memadukannya dengan konsep mayoritas-minoritas. Misalnya Muir dan Muir (1988) yang menggunakan Skala Bogardus untuk melihat jarak sosial antara anak-anak sekolah berkulit hitam dengan yang berkulit putih. Perpeksitf mayoritas-minoritas yang hampir sama juga digunakan oleh McAllister dan Moore (1991) dalam penelitiannya di masyarakat Australia. Di Indonesia, seperti yang diterbitkan dalam jurnal Al-Qalam, Abd. Kadir R. (2009) menggunakannya untuk mengetahui jarak sosial diantara warga Ambon yang beragama Kristen dan Muslim.

Instrumen dalam memahami jarak sosial ini memang tidak tunggal hanya memakai Skala Bogardus saja. Masih ada bentuk-bentuk lain seperti stereotyping ataupun pengukuran tingkat diskriminasi. Beberapa sosiolog Amerika di masa Bogardus juga sudah mengembangkan instrumen penelitian jarak sosial yang mengukur frekuensi interaksi antar individu atau kelompok. Mungkin juga perlu dipadukan skala Bogardus dengan jenis-jenis lain ini mengingat seeprti yang diungkapkan oleh Lee, Sapp, dan Ray (1996) dalam The Journal of Social Psychology, konsep Bogardus ini mengandung kelemahan karena dilahirkan dari perspektif “mayoritas”, sehingga sulit untuk menjelaskan nature dari penjarakan sosial tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: