Durkheim tentang Sosialisme & Komunisme

Com-Soc-Cap_thumb[5]

Sosiolog awal Prancis, Emile Durkheim, diantara sekian banyak karyanya, mempunyai suatu pembacaan menarik tentang perbedaan antara sosialisme dan komunisme. Pengertiannya ini akan menjadi rujukan banyak orang sekaligus menjadi sasaran kritik para akademisi.

Seperti kebanyakan akademisi ilmu sosial saat itu, perhatian utama sedang berpusat pada kajian-kajian sosial, ekonomi, dan politik. Dalam konteks kehidupan Durkheim, jelas pengaruh Revolusi Prancis tampak nyata dalam karya-karyanya. Banyak akademisi yang membaca kemudian menempatkan karya-karya Durkheim dalam klasifikasi yang kontra revolusi. Karakter khas lain dari Durkheim adalah penekanan terhadap sisi empiris yang melanjutkan tradisi keilmuan August Comte dalam menempatkan sosiologi sebagai fisika ilmu sosial.

Dalam memahami sosialisme maupun komunisme dalam kacamata Durkheim, karya terbaik yang bisa menjadi rujukan utama adalah The Division of Labor in Society (1893). Dari The Division ini, terlihat jelas bagaimana Durkheim memposisikan dirinya dengan menggumuli terlebih dahulu perbedaan antara sosialisme dan komunisme. Dua isme yang dalam konteks kehidupan kita sering dipertukarkan dan bahkan mempunyai asosiasi yang negatif akibat konteks politik masa lalu.

Pembacaan Durkheim dalam The Division akan lebih mudah dipahami jika kita memakai kacamata Anthony Giddens dalam Capitalism and Modern Social Theory: An Analysis of Writing of Marx, Durkheim & Max Weber (1971). Meskipun sedikit terasa tidak fair jika kita memaknai lewat pihak ketiga, tapi Giddens memberi suatu kerangka pemahaman yang sangat konstributif bagi semua akademisi dalam memahami cara pandang Durkheim.

Dalam membangun kerangka pikirnya, secara samar-samar terlihat bahwa Durkheim berusaha tidak mengambil jalan yang sama dengan akademisi beraliran kiri yang menempatkan secara kaku bahwa sosialisme merupakan suatu tahap menuju masyarakat komunis. Secara menarik, Durkheim justru menarik pembedaan awal antara sosialisme dan komunisme dalam pemahaman klasik Yunani: idealisme versus materialisme.

Dengan titik awal seperti itu, Durkheim bisa menempatkan komunisme dalam titik idealisme yang ekstrim. Karena itu, materi dianggap sebagai salah satu sumber penyakit masyarakat. Dampaknya, penguasaan atas materi menjadi apa yang disebut sebagai “bahaya moral”. Tidak terelakkan lagi, suasana asketisme sangat kental dalam visi komunisme. Dan masyarakat yang ideal tercipta tatkala kehidupan ekonomi berpisah dari kehidupan politik.

Sosialisme berada dalam titik yang lebih moderat. Sosialisme melihat ekonomi dan politik harus diasimilasikan. Negara berperan tidak menjadi sentra tunggal ekonomi dan meniadakan peran aktor-aktor non-negara, tapi negara harus menjadi dasar kehidupan ekonomi yang melaksanakan tata kelola, bukan memonopoli, ekonomi. Praktik dari sosialisme adalah pengaturan dan pengembalian ekonomi demi mencapai kepentingan semua masyarakat.

Di sini, negara punya peran yang sangat vital, tapi tidak menjadi satu-satunya kekuatan di dalam masyarakat. Meskipun agak sulit dipahami secara eksak, tapi signifikansi negara dalam pemikiran Durkheim adalah mengatasi berbagai kontradiksi dimana masyarakat menjadi sangat modern dan egoistik sementara negara ditekan untuk memberi perlindungan hak-hak individual masyarakat yang bersifat konfliktual tersebut.

Jika dibandingkan dengan konsepsi Karl Marx tentang masyarakat, maka pandangan Durkheim jauh lebih optimis. Marx tidak menggunakan konsep egois maupun kontradiksi lagi, tapi sudah menggunakan istilah konfliktual dan anarkhis. Anarkhisme muncul sebagai buah sistem kapitalisme yang menciptakan dunia ekonomi nir-pengaturan dari lembaga-lembaga seperti negara. Produksi dan konsumsi tidak dijembatani oleh struktur apapun, terjadi persaingan bebas, dan murni egoisme.

Mencapai kepentingan semua masyarakat adalah titik temu semua ideologi, tak terkecuali sosialisme dan komunisme. Anthony Giddens melihat bahwa meskipun sosialisme hanya bisa diaplikasikan kepada masyarakat yang sudah mempunyai pembagian kerja yang maju sedangkan komunisme hanya operatif dalam menganalisis masyarakat tradisional, kedua perspektif klasik Eropa ini punya misi yang sama. Misi tersebut adalah bagaimana memperbaiki kondisi saat itu dimana kepentingan-kepentingan kolektif terancam oleh kepentingan-kepentingan pribadi.

Revolusi industri dan modernitas memang memunculkan konsekuensi logis berupa lahirnya suatu kelompok (kelas) masyarakat tertentu yang menumpuk sumber-sumber daya sosial di masyarakat untuk kepentingan pribadinya. Kepentingan pribadi yang mendorong suatu perilaku egoisme ini ingi diatasi baik oleh sosialisme dan komunisme. Komunisme berupaya melenyapkan semua egoisme pribadi dan meleburnya ke dalam negara, sedangkan sosialisme masih melihat sisi baik egoisme jika masih selaras dengan kepentingan bersama tadi.

Jika misi sosial tersebut ditempatkan sebagai dasar moral sosialisme dan komunisme, maka asumsi banyak pihak yang melihat bahwa dua isme yang kental suasana Marxian ini hanya sebagai reaksi terhadap kapitalisme menjadi kurang bermakna. Sosialisme dan komunisme juga bisa dimaknai sebagai aksi sosial yang berusaha merekonstruksi kondisi historis sebuah masyarakat dalam suasana progresivitas, bukannya melulu mendekonstruksi tatanan sosial yang sudah dibangun oleh kapitalisme itu sendiri.

Hal paling penting yang harus kita lihat sebagai sebuah “kebenaran” adalah bahwa tidak ada hasil sebuah pemikiran yang tidak berusaha menciptakan “kebaikan” bagi masyarakat dalam skala mikro maupun makro. Pemikiran-pemikiran berusaha menangkap semangat zamannya masing-masing. Semua isme yang beredar dan kita baca mempunyai misi sosialnya masing-masing. Dan tak jarang, seperti Durkheim, misi sosial lewat dunia pemikiran tersebut, walaupun akhirnya pemikirannya akan salah dimaknai, dibaca terbaik, ataupun dimengerti secara parsial, tapi itulah cara kerja sebuah paham: lebih berkembang karena salah dipahami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: