Melihat Seni Budaya dan Musik Gerejawi

Kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam masyarakat memiliki dampak dan skelaigus peran penting bagi gereja dan umat yang notabene adalah bagian dari masyarakat. Pergumulan gereja dan umat dalam memahami budaya dan kesenian, terutama budaya lokal, sering mengalami kebuntuan yang berujung kepada pertanyaan besar: Apakah gereja dan budaya bisa selaras dalam menciptakan suatu komunitas umat percaya?

Pertanyaan ini muncul didasari suatu idealisme bahwa budaya juga merupakan instrumen sekaligus ekspresi umat percaya dalam melakukan pekabaran Injil. Di sisi lain muncul juga idealisme religius bahwa gereja juga harus menjadi motor perubahan budaya suatu masyarakat ke arah yang lebih baik.

Dua asumsi ini yang menjadi pola perjumpaan antara gereja dan budaya di masyarakat kita. Pola yang pertama lebih menekankan penerimaan budaya dan sikap kooperatif sekaligus pemakluman juga terhadap ekspresi-ekspresi budaya yang tidak berhubungan langsung dengan Kekristenan. Pola yang kedua menekankan sisi konfliktual dalam memahami konteks budaya dan hanya bisa diselesaikan dengan superioritas ajaran dogmatika di atas budaya.

Tantangan yang sekarang dihadapi warga gereja adalah bagaimana di satu sisi menempatkan posisi budaya dan seni tradisional dalam komunitas umat percaya. Di sisi lain, tantangan yang lebih besar, adalah bagaimana menyingkapi cepatnya transformasi budaya modern yang menerpa masyarakat kita.

Tantangan inilah yang memunculkan tuntutan akan suatu konsepsi tentang “kebudayaan Kristen” atau lebih tepatnya “kebudayaan yang bernuansa Kristen”. Konsepsi ini tentu sulit untuk diwujudkan dalam definisi tunggal dan absolut mengingat gereja ditempatkan dalam berbagai macam konteks budaya yang berbeda. Tapi nilai-nilai yang akan menjadi arus utama gereja dalam memahami kebudayaan diharapkan bisa menjadi pegangan bersama dalam melakukan suatu tindakan kolektif untuk kemajuan bersama.

Salah satu dimensi kebudayaan adalah seni musik. Dari sisi historis, peran musik dalam kebudayaan manusia sudah lama dan juga mempengaruhi budaya dari suku tersebut. Dalam sejarah kebudayaan gereja mula-mula, musik masuk dalam unsur ibadat mulai abad ke-4. Perkembangan musik gerejawi mencapai masa keemasaannya ketika menjadi inspirasi dan menggerakkan perkembangan musik-musik di dunia barat, sehingga menjadi salah satu karakteristik utama peribadatan umat Kristen sampai sekarang.

Dalam konteks komunitas umat Kristen di Surabaya, terutama dalam kebudayaan dan seni musik gerejawi, perkembangannya patut mendapat perhatian berbagai pihak. Ada kesan perkembangan musik gerejawi yang merupakan karakteristik budaya yang menonjol dari umat Kristen, cenderung stagnan. Kurangnya pembinaan terhadap musik gerejawi, terutama di sisi sumber daya manusia dituding sebagai salah satu faktornya. Padahal, fungsi musik gerejawi sangat penting dalam menghantarkan menuju kesakralan ibadah.

Musik gerejawi yang ada sekarang juga terlalu homogen. Musik-musik lokal bahkan tidak pernah diperhatikan atau dikolaborasikan dengan budaya Kristen. Padahal, musik gerejawi juga menjadi salah satu sarana pekabaran Injil yang tidak frontal. Minimnya kolaborasi ini mungkin juga disebabkan ketakutan akan tuduhan-tuduhan sinkretisme yang sebenarnya juga tidak berdasar.

Tetapi perlu diingat bahwa seni musik itu bersifat universal dan kontekstual. Sisi universalitas musik bisa dilihat ketika musik dimaknai punya berbagai pemaknaan di berbagai komunitas. Begitupun instrumen atau alat musik yang punya fungsi-fungsi pemaknaan masing-masing. Sementara itu sisi kontekstual mengingatkan kita bahwa musik bisa dipahami secara berbeda-beda. Spiritualitas setiap orang berbeda-beda, begitupun rasa akan musik.

Karena itu sisi berikutnya dari musik adalah sifatnya yang netral. Musik tergantung darimana kita memfungsikannya, apakah untuk kemuliaan Tuhan atau bukan. Kesalahan utama dalam memperlakukan musik adalah ketika musik tersebut hanya dipakai untuk kepuasan diri sendiri. Secara umum, juga tidak salah sikap kita dalam memposisikan diri tidak anti terhadap perkembangan musik dari luar gereja sepanjang tidak bertentangan dan hanya untuk kemuliaan Tuhan.

Dengan semua dinamika perkembangan musik gerejawi di atas, timbul suatu pemikiran bagaimana memberdayakan kembali jemaat dan gereja, terutama para generasi muda untuk menggiati kembali perkembangan musik gerejawi. Perubahan paradigma diperlukan di sini mengingat antara generasi muda dan generasi tua sering terjadi perbedaan pendapat dan titik tolak dalam memahami budaya. Generasi muda harus memahami bahwa nilai-nilai utama Kekristenan harus tetap menjadi unsur utama setiap perubahan yang ada, sementara generasi yang lebih tua harus mengakomodasi perubahan ini dan tidak terlalu khawatir akan lunturnya nilai-nilai yang ingin dipertahankan.

Bahkan kalau mungkin, kedepannya, melalui musik masing-masing gereja, bisa menjadi ciri khas bagi masing-masing gereja tersebut. Perlu ditanamkan supaya umat Kristen, dalam konteks perkembangan budaya, menjadi sebuah “creative minority”, yang bisa menimbulkan dampak bagi masyarakat dan bangsa secara keseluruhan, bukan hanya bagi umat Kristen itu sendiri. Dalam komunitas tersebut, gereja tetap menjadi sentral perkembangan budaya dan musik gerejawi.

*Resume dari Seminar Musik & Budaya Gerejawi BAMAG Surabaya di GKJW Darmo, 28 Juni 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: