Hans Küng

kung_smaller-440x292

Pertengahan bulan Desember 2013, media kenamaan Jerman Der Spiegel menurunkan sebuah hasil wawancara dengan Hans Küng, seorang teolog Katolik kontroversial. Label kontroversial untuk teolog berkewarganegaraan Swiss ini dikarenakan dia sering menempatkan diskursus pemikirannya berseberangan dengan kepausan.

Dalam wawancara yang dilakukan oleh Markus Grill ini, Hans Küng yang sekarang sudah berusia 85 tahun digambarkan dalam kondisi fisik yang payah. Belum lagi parkinson yang dideritanya setahun terakhir ini disertai beberapa penyakit degeneratif lainnya. Dengan kondisi yang sudah teramat berat ini, Küng masih tetap memancarkan kekuatan diskursus dan penempatan posisi intelektualnya yang seakan kebal terhadap segala penyakit. Mungkin karena itulah, Markus Grill memberi judul wawancaranya ini dengan mengutip kata-kata Küng: “I Don’t Cling to This Life.”

Perkenalan pertama saya dan mungkin juga pembaca Hans Küng di Indonesia adalah karya-karyanya tentang etika. Etika dunia sebagai sebuah tanggungjawab bersama secara global demi kelangsungan hidup umat beragama merupakan jargon yang mudah diingat untuk mengenali sosok penulisnya. Salah satu rumusan yang menurut saya paling brilian dan tentu saja kontroversial jika mengingat posisinya sebagai seorang teolog, Küng menyarankan adanya koalisi antara orang-orang percaya (believers) dengan mereka yang tidak percaya (non-believers) untuk menciptakan kehidupan damai.

Berbicara mengenai posisi pemikiran Hans Küng sendiri akan lebih melegakan jika menempatkannya sebagai seorang teolog awam, dalam artian dia tidak berada dalam struktur hirarkhis gereja katolik. Kegaduhan terbesar yang pernah ditimbulkannya tentu adalah penolakannya secara tegas terhadap ketidaksalahan (infalibilitas) kepausan yang secara tradisional dipahami merepresentasikan kekuasaan ilahi di dunia.

Kesimpulan terhadap penolakan ketidaksalahan kepausan ini dipastikan akan lebih sering diingat dan dipahami orang daripada alasan apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Buku yang menuliskan pemikiran Küng tersebut adalah Infallible? An Inquiry (1970). Ada berbagai pembacaan yang berbeda terhadap apa yang sedang diutarakan Küng sebagai dasar utama penolakannya tersebut. Tapi secara umum, Küng menyerang absolutisme dogmatika yang berada di tangan satu atau suatu pusat kekuasaan tertentu dan terlalu riskan menurutnya untuk meletakkan arah teologi ratusan juta umat Katolik tanpa melihat dimensi historis dan dinamika manusia yang akan mengungkap bahwa tidak ada satu sistem di dunia ini yang steril dari kesalahan.

Tentu saja reaksi yang muncul sangat keras terhadap Küng yang kemudian dilabeli liberal, anti-tradisi, anti-hirarkhis dan sederet anti-anti lain yang wajar muncul ketika tradisionalisme coba diguncang. Apalagi Küng tidak hanya berhenti di situ, dia juga menolak pola hidup membujang (selibat) bagi para imam dan juga tidak sepakat dengan posisi gereja Katolik terhadap euthanasia. Bagaimana dengan pemikiran Hans Küng versi masa tuanya sekarang?

Sayangnya wawancara tersebut tidak menjelajahi secara mendalam konsep-konsep teologi Küng atau dinamika pemikiran yang acap terjadi di masa peralihan muda dan tua. Sepertinya Der Spiegel memang tidak tertarik memancing hal tersebut mengingat reputasi Küng yang gigih dalam mempertahankan pendapatnya. Justru pertanyaan-pertanyaan ringan namun mendalam yang diajukan, dan itulah kekuatan wawancara ini.

Coba kita simak deretan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertanyaan pertama sangat tajam: “Professor Küng, will you go to heaven?”, berikutnya adalah “Does hell even exist?”, atau bagaimana dengan pertanyaan ini “Do you have a concept of heaven?”

Meskipun kelihatan tidak sistematis atau tematis, tapi lontaran-lontaran pertanyaan dan respon serta jawaban yang diberikan oleh Küng, tetaplah menarik dan brilian, sebuah diskusi dimana penanya seakan-akan berposisi sebagai wakil setan yang mencobai manusia lewat pertanyaan-pertanyaan nakalnya.

Paling menarik disimak adalah pertanyaan berikut: “Do you cling to life?” Apakah anda terikat dengan kehidupan (dunia) ini? Di sini Küng secara konsisten dan tegas menjawab sekaligus ingin mengukuhkan posisi intelektualitasnya dalam relasi dengan keimanannya: “I don’t cling to earthly life because I believe in eternal life. That’s the big distinction between my point of view and a purely secular position.”

Penilaian saya terhadap jawaban Küng ini merupakan jawaban terbaik yang pernah saya dapat dalam menjawab relasi ilmu pengetahuan dan perangkat rasionalitasnya dengan keimanan seseorang manusia. Hans Küng tampak tidak berusaha mendamaikan rasionalitas dengan iman melalui diskursus kompromistis dan normatif seperti yang pernah dilakukan Paus Yohanes Paulus II bersama Jürgen Habermas. Dia juga tidak berusaha mengalihkan tema dilematis tersebut menjadi sebuah jargon moralis. Hans Küng tetap memposisikan dirinya sebagai seorang teolog dan tetap melihat keilmua dan fenomena dunia lewat kacamata teologi, tidak sebaliknya.

Wawancara ini tampak berakhir manis tatkala Hans Küng menyanjung Paus Fransiskus dan melihatnya sebagai pemimpin yang mengajak para pelayan Tuhan untuk keluar, menghadapi dunia, dan menyelesaikan masalah dunia ini. Meskipun agak kecewa dengan sikap Paus Fransiskus dalam melakukan kanonisasi Paus Yohanes Paulus II, Hans Küng yang sampai sekarang tidak menikah dan tidak mempunyai anak ini menyebut Paus Fransiskus “telah mengenalkan sebuah pergeseran paradigma.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: