Badiou

badiou

Alain Badiou (lahir 17 Januari 1937) adalah salah satu nama terkemuka dalam dunia pemikiran filosofis kontemporer Definisi ini tampaknya cukup untuk mengantar kita semakin tertarik untuk menggeluti dunia pemikirannya. Tapi bagi sebagian orang, hal yang definitif tersebut tidaklah cukup dan harus menambahkan anak kalimat berupa pertanyaan dalam lingkup yang lebih luas: bagaimana peran filsafat di masa kini?

Suatu mukadimah yang dirasa cukup untuk menjelaskan pemikiran Badiou sekaligus berusaha untuk menjawab pertanyaan bernada skeptis di atas bisa kita temukan dalam dialog tertulis Alain Badiou dengan Slavoj Žižek, the most dangerous philosopher in the west, yang kemudian dibukukan dengan judul Philosophy in the Present (2005, terj. Inggris 2009, Polity) dan disunting oleh Peter Engelmann.

Dua paradoks gaya pemikiran tertuang dalam buku ini, Alain Badiou yang calm dan tematis dihadapkan dengan Žižek yang provokatif dan di awal tulisannya sudah memberi alarm dengan mengatakan “Philosophy is not a dialogue,” tapi konfrontasi.

Mari kita melihat secara seksama bagaimana Badiou melihat filsafat. Dalam pengantar diskusi Engelmann mencoba menggambarkan suatu kegamangan posisi intelektual atau akademisi dengan kekuasaan. Dikisahkan tentang bagaimana para pemikir itu sering diundang untuk berdiskusi bersama dengan presiden Prancis dulu, François Mitterrand. Magnet dari pusat kekuasaan membuat para intelektual tanpa ragu mendekat, di saat yang bersama kondisi kontemporer memperlihatkan peran mereka di masyarakat tidak begitu signifikan.

Inilah yang menjadi basis ideal dari Badiou tentang filsafat di masa kini: para filsuf tidak lagi hanya menginterpretasikan dunia, tapi harus merubahnya! Dalam sejarah dunia pemikiran kegelisahan ini pula, dalam historis pemikiran yang berbeda, yang berada dalam benak Karl Marx ketika melihat idealisme Hegelian tidak mampu secara operatif menjawab permasalahan dunia.

Sebagai langkah pertama Badiou menetapkan batas yang seringkali dilanggar oleh kegenitan para filsuf ketika diperhadapkan popularitas: kompetensi dan genuinitas. Filsafat disebutnya sebagai penemuan masalah-masalah baru yang dibangun oleh suatu pemikiran sistematis di bidangnya. Karena itulah seorang pemikir tidak boleh berbicara sesuka hatinya, atau berbicara tentang hal apapun seakan-akan dia atau apa yang ada di dalam pemikirannya adalah suatu panacea, obat bagi segala penyakit.

Langkah kedua, Badiou merumuskan konsep “situasi filosofis,” sebuah keadaan dimana ia bisa didefinisikan sebagai pergumulan filsafat yang menjadi basis bagi para filsuf terutama untuk merenung, mengidentifikasi permasalahan, dan melahirkan gagasan baru untuk merubahnya, apapun konsekuensinya.

Situasi filosofis pertama disebut Badiou terdapat dalam karya dialogis Plato, Gorgias. Gorgias merupakan sebuah narasi tentang perjumpaan yang brutal antara dunia pemikiran dengan dunia kekuasaan. Dunia pemikiran direpresentasikan oleh Sokrates sedangkan Callicles mewakili dunia kekuasaan. Dalam perdebatan itu Callicles bersikeras bahwa tirani kekuasaan adalah yang utama dan puncak dari kebahagiaan, sebaliknya Sokrates juga bersikeras bukan itu yang disebut keutamaan, tapi Keadilan lah yang harus menjadi yang primer. Diskusi berubah menjadi konfrontasi, dalam situasi itu Sokrates memenangkan argumentasi. Suatu kemenangan yang tidak akan pernah diakui oleh Callicles.

Situasi kedua adalah sebuah tragedi. Mirip dengan kisah pertama, ini juga perjumpaan antara pemikiran dengan kekuasaan, tapi dengan akhir yang lebih brutal dan mengenaskan. Dikisahkan tentang ahli matematika terkemuka zaman itu, Archimedes. Begitu termasyhurnya dia sampai Jenderal Romawi Marcellus, yang baru saja menaklukkan Sisilia tanah kelahiran Archimedes, ingin menemuinya. Maka disuruhlah tentara Romawi untuk menjemput Archimedes. Ketika ditemui Archimedes sedang berada di tepi pantai, menulis dan menghitung di pasir pantai tanpa menghiraukan pasukan Romawi yang datang. Setelah beberapa kali ditegur, baru Archimedes menjawab bahwa dia ingin menyelesaikan perhitungannya terlebih dahulu. Seorang tentara Romawi yang kehilangan kesabaran dan kemungkinan tak mengenal figur Archimedes langsung menghunus pedang dan membunuhnya. Sebuah perjumpaan yang berakhir tragedi, tepatnya kecelakaan yang tragis.

Situasi terakhir diambil Badiou dari sebuah film Jepang garapan sutradara Mizoguchi, The Crucified Lovers, yang disebutnya sebagai the most beautiful films ever made about love. Bersetting di era klasik Jepang, film ini menyampaikan narasi percintaan terlarang antara seorang istri muda dengan seorang pria muda yang menjadi pegawai suaminya. Skandal terjadi diantara keduanya, satu-satunya jalan bagi keduanya adalah lari dari komunitas asal, sayangnya mereka segera tertangkap dan dihukum mati. Kejadian paling dramatis disebut Badiou justru ketika mereka dihukum mati dengan badan dua orang ini yang diikat di belakang bagal/keledai. Dua orang pecinta ini memperlihatkan ekspresi luar biasa menjelang ajal tragisnya. Keduanya terlihat menawan, sama sekali tidak menghiraukan sakit yang akan dirasakannya, di wajah mereka tersungging senyuman, seakan pelarian dari keadaan tragis ini. Mereka hanya eksis dalam dunia percintaan mereka. Kondisi mereka melampaui realitas tragis dan Badiou hanya bisa menyimpulkan: love is what resists death.

Situasi pertama menghadapkan kita pada sebuah pilihan konfrontatif, sebuah pilihan tentang pemikiran apa yang harus kita pilih beserta segala konsekuensinya. Pilihan-pilihan itulah yang diuraikan secara jelas dan jernih. Dan bagi Badiou pilihan ini akan berujung dua: pilihan eksistensi atau pemikiran.

Situasi kedua berupa kecelakaan tragis memaksa filsafat untuk menyinari jarak yang terbentang antar dua dunia yang tidak bisa bertemu. Dunia pemikiran dan dunia kekuasaan masing-masing mempunyai logikanya sendiri. Jarak yang terbentang inilah yang harus diterangi oleh filsafat.

Situasi terakhir memang agak sulit untuk kita mencerna dalam konteks status quo karena Badiou akan menyeret situasi ini dan memaksa kita sebagai pembacanya untuk melakukan perubahan radikal. Perubahan radikal ini adalah memunculkan “pengecualian” yang bisa mewujudkan transformasi kehidupan. Nilai yang terkandung dalam “pengecualian-pengecualian” dan otomatis kita harus memberi tempat bagi “liyan-liyan” inilah yang dikonfrontasikan dengan konservatisme sosial.

Konsep tentang basis filosofis Badiou ini seakan menegaskan lagi bahwa posisi seseorang yang terjun atau menenggelamkan diri dalam dunia pemikiran tidak akan pernah mudah. Berbagai konfrontasi pemikiran, maupun yang berujung fisik (kematian), akan dihadapi. Pilihan-pilihan sulit dan dilematis yang menyangkut eksistensi diri juga akan ditemui. Dan terakhir, tugas yang paling sulit adalah menghindari status quo, menghindari konservatisme yang menegasikan liyan. dengan begitu Badiou mengajak kita melampaui, bukan menghindari, diri kita, lingkungan sosial, maupun dunia kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: