Quick Count, Quick Controversy

indonesia-election

Penggunaan metode quick count (hitung cepat) dalam pemilihan presiden 9 Juli kemarin merupakan hal yang biasa dan jamak ditemukan di berbagai belahan dunia yang lain. Tapi yang terjadi kemarin, terkait dengan kontroversi quick count, yaitu berbagai perbedaan hasil penghitungan suara yang terjadi, bukanlah hal yang bisa ditemukan di negara-negara lain. Mengapa quick count kali ini menghasilkan kontroversi?

Sebelum jauh kita melangkah menelusuri kontroversi ini, ada baiknya kita memahami mengapa muncul “tradisi” pendekatan ilmiah yang digunakan dalam berbagai kejadian politik, terutama ketika ada pemilu.

Studi pemilu empiris merupakan istilah teknis yang biasa digunakan dalam dunia akademisi untuk menggambarkan pendekatan-pendekatan ilmiah tersebut untuk memahami kejadian-kejadian politik, terutama pemilu. Studi ini secara prematur sudah dilakukan di akhir abad ke-19 di negara-negara Skandinavia dan di Jerman.

Jadi ilmu yang digunakan oleh para pollster sekarang ini merupakan ilmu yang berumur lebih dari 100 tahun yang tentunya sudah mengalami banyak penyempurnaan dan penyesuaian. Dan yang paling penting, studi empiris tersebut tidak hanya berkaitan dengan hasil pasca pemilu, tapi juga meliputi berbagai statistik dan analisis pra-pemilu, seperti demografi politik.

Studi pemilu ini memproduksi banyak hal yang sebelumnya tidak pernah diprediksi dalam pemahaman politik saat itu. Misalnya, hasil studi tentang pelaksanaan pemilu pertama di Kekaisaran Jerman tahun 1871 menghasilkan identifikasi terhadap adanya suatu kelompok masyarakat yang tidak memilih (golput) serta adanya kaitan antara agama dengan perilaku memilih.

Hanya beberapa puluh tahun sesudahnya, studi ini kemudian juga berkembang di dunia “Eropa Baru”, yaitu Amerika Serikat, dimana kondisi sistem demokrasinya sudah mulai stabil. Charles E. Merriam dan Harold F. Gosnell (1924) memulai studi pemilu ini dengan melakukan jajak pendapat terhadap orang-orang yang tidak berpartisipasi dalam sebuah pemilu walikota di AS.

Perkembangan berikutnya, studi-studi pemilu semakin berkembang terutama di AS. Kemunculan studi-studi behaviorisme yang awalnya berkembang di kantung-kantung industri Amerika Serikat sejak tahun 1960-an, sedikit banyak juga mendorong studi pemilu menjadi lebih presisi, handal, dan reliabel.

Sejak saat itu pula, publik mengenal berbagai instrumen-instrumen studi yang biasanya ketika berkaitan dengan pemilu akan dibagi menjadi dua bagian: studi pra-pemilu dan studi pasca-pemilu. Studi pra-pemilu kalau di Indonesia lebih kita akrabi ketika berbagai lembaga survei menggunakan kata kunci “popularitas” dan “elektabilitas.” Sedangkan dua studi pasca-pemilu yang paling kita kenal adalah exit poll dan quick count.

Demikianlah sedikit alur historis perkembangan kenapa muncul “tradisi” pendekatan ilmiah yang dilibatkan dalam memahami fenomena-fenomena politik. Kalau berbicara masalah kebutuhan, maka yang paling mendasar secara ontologis adalah kebutuhan ilmu itu sendiri untuk terus berkembang dan tentu saja menyesuaikan diri dengan obyek keilmuannya, yaitu masyarakat dan fenomena politik yang sangat dinamis dan tidak pernah stagnan. Dari sisi pendekatan pragmatis, maka jawaban yang paling rasional adalah kebutuhan untuk menyediakan data secara cepat dan bisa dianalalisis secara lebih lanjut demi kepentingan politik itu sendiri.

Di Indonesia, studi-studi empiris politik baru berkembang setelah muncul kebebasan berdemokrasi pasca Orde Baru. Satu yang bisa dibilang sebagai pioneer dalam bidang ini adalah Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang didirikan tahun 2003. Dari profilnya, lembaga ini mengidamkan suatu kondisi ideal seperti dalam politik AS dimana sebagai negara yang demokrasinya maju, selalu ditandai kehadiran lembaga survei yang kuat. Masih dari lingkaran keilmuan yang sama kemudian lahir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2005. Sejak saat itu, mulai bermunculan lembaga-lembaga survei politik baik di tingkat lokal maupun nasional, serta tak ketinggalan beberapa media serta lembaga-lembaga keilmuan seperti CSIS maupun LIPI yang kemudian menyemarakkan bidang ini. Lembaga-lembaga survei ini kemudian berkumpul dalam organisasi profesi seperti Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) dan Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI).

Tuntutan di lapangan tidak hanya menempatkan lembaga-lembaga survei ini sebagai pengumpul dan penganalisis data, namun juga dituntut sebagai bagian dari sebuah kesuksesan politik. Dengan kata lain, lembaga survei harus juga menjadi partisan dalam suatu kompetisi politik. Benturan dan konflik kepentingan tentu terjadi dalam kondisi yang tidak ideal seperti ini. Batas antara idealisme intelektualitas menjadi kabur tatkala diperhadapkan dengan profesionalitas profesi konsultan politik.

Contoh terbaru adalah apa yang terjadi saat pilpres 2014 ini. Perbedaan hasil hitung cepat yang dipublikasikan oleh 12 lembaga survei, dimana mayoritas memenangkan pasangan Jokowi-JK, membuat reputasi lembaga survei, dan juga reputasi idealisme intelektualitas secara umum, di ujung tanduk. Siapapun yang tepat dari dua versi quick count ini, kedua pihak sedikit banyak sudah menimbulkan kerancuan opini publik mengingat publikasi besar-besaran oleh media yang juga sama-sama tidak netral.

Belum lagi jika menyangkut hal paling sensitif, yaitu tentang sumber pendanaan, yang bisa menjadi indikator apakah sebuah lembaga survei independen atau tidak. Data terbaru dari Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia menyebutkan bahwa dari 12 lembaga survei yang merilis hasil hitung cepat mereka dalam pilpres 2014 ini, hanya dua lembaga yang tidak merangkap menjadi konsultan politik, yaitu RRI dan Kompas.

Kondisi yang menimbulkan ketidakpercayaan dan menimbulkan bias pada opini masyarakat jelas merupakan hal yang sangat penting untuk diselesaikan supaya tidak terulang kembali, dan bahkan mungkin lebih penting daripada hasil pemilihan itu sendiri…

*Pengantar Lewi Discussion Forum 12 Juli 2014 di Sekretariat MPKW Kompleks Toko Buku Petra Toga Mas Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: