Yume Uru Futari 「夢売るふたり」

yume-7

Bagi mereka yang cukup mengikuti dunia sineas Jepang akhir-akhir ini akan menemukan satu nama produser yang cukup mempunyai nama walaupun terhitung masih baru. Miwa Nishikawa (40 tahun) merupakan sutradara film yang mempunyai karakteristik genre penggambaran kehidupan yang “tidak biasa” alias getir. Film-film garapannya sebelum sebelum Yume uru Futari, Wild Berries (2003), Sway (2006), Ten Night of Dreams (2006) dan Dear Doctor (2009) mempunyai nuansa yang sama.

Karena belum melihat film-film terdahulu dari Miwa Nishikawa, maka di sini saya mengutip review dari Mark Schilling yang dimuat di Japan Times. Wild Berries (Hebi Ichigo) dimasukan dalam genre black comedy; Sway (Yureru) adalah cerita konyol tentang dua bersaudara yang tidur dengan wanita yang sama tapi berakhir saling melawan di pengadilan; sedangkan Dear Doctor tentang dokter yang melakukan kecurangan di pedesaan.

Yume Uru Futari atau jika diterjemahkan bebas menjadi Impian yang Dijual (jika melihat ceritanya mungkin lebih tepat sebagai Impian yang Terjual) dirilis tahun 2012. Setting kehidupan urban menjadi sumber inspirasi yang tak habis-habisnya untuk dieksplorasi, terutama mengenai ketegangan-ketegangan hidup yang dialami secara personal. Pahit getir kehidupan yang digambarkan pun nantinya bukan hanya menjadi penggambaran individual saja, tapi juga pola dan karakteristik setiap orang yang mengalami kegetiran dan ketegangan hidup yang sama.

Sinematografi yang cukup humanis di awal film sudah cukup untuk menipu kita bahwa alur cerita kehidupan baru akan menukik bebas. Sorotan utama film ini berada pada pasangan suami istri Kanya (diperankan Sadao Abe) dan Satoko (Takako Matsu). Keduanya hidup bahagia sampai cobaan hidup datang dengan terbakarnya rumah makan yang menjadi tumpuan hidup keluarga.

Kanya, dengan sifatnya yang ekspresif, sangat terpukul dan mencoba mengaburkan frustasi dengan memabukan dirinya, tapi akhirnya malam itu berakhir dengan jatuhnya dia ke rumah wanita lain yang sama frustasinya. Si istri, Satoko, adalah tipikal istri dalam budaya Timur yang menempatkan diri dalam konsep sabar dan tabah.

Kepulangan Kanya dari wanita lain itu merubah seluruh jalur kehidupan mereka berdua. Kanya yang datang dengan segepok uang pemberian wanita tadi, memang akhirnya didamprat habis-habisan oleh Satoko, tapi entah setan apa yang masuk dalam pikiran Satoko, dia akhirnya mulai menyusun persekongkolan dengan sang suami yang sekarang posisinya menjadi subordinat. Dimulailah petualangan mereka sebagai penjual mimpi (harapan) palsu dengan menjadikan sang suami sebagai umpan menjerat wanita-wanita yang mengalami ketegangan dan tekanan hidup demi mendapat simpati dan empati yang berwujud uang.

Satu demi satu korban terjerat. Mulai dari wanita kantoran yang didesak untuk segera menikah, ibu-ibu rumah tangga yang kesepian, sampai atlet olahraga yang putus akal dalam mencari jodoh. Sesuatu yang mungkin dalam konteks kota besar narasi ini mungkin mudah kita jumpai, dan sedikit banyak akan menghasilkan permakluman. Apa yang kita sebut sebagai konsep elastisitas moral tidak akan mampu menjelaskan konteks manusia sebagai makhluk yang ingin terus bertahan hidup meskipun dengan menghisap darah sesama manusia.

Hal ini dipertajam dengan penggambaran tokoh Satoko yang cukup dingin, kejam, seakan-akan mempunyai trauma yang tidak bisa disembuhkan. Sang suami dalam beberapa kesempatan mengalami proses konsientasi walaupun akhirnya tertindas oleh dorongan sang istri.

Pilihan-pilihan moral pasangan ini memang bisa diperdebatkan, tapi dalam beberapa hal struktur dan sistem kehidupan yang mereka jalani juga tak kalah andil dalam menciptakan pilihan-pilihan moral ini. Kesempatan untuk melakukan perbuatan yang tercela bukan hanya diciptakan seperti predator yang menunggu korbannya, tapi sistem kehidupan (urban) yang dijalani juga menyediakan (menawarkan) potensi terjadinya perbuatan jahat.

Cerita ini tidaklah random, endingnya juga tidaklah bersifat arbitrer, pola atau keteraturan dari pilihan-pilihan moral yang terus berubah ini memaksa kita untuk selalu menafsirkan apa yang dianggap baik dan apa yang diperlakukan sebagai suatu yang jahat.

Sekali lagi, inilah cerita kita bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: