Hirugao. Love Affairs in the Afternoon (2014)

Hirugao_zps37175737

“Affair. A dirty and selfish act of passion. To turn your back on your family hurt everyone around you and lose friends and to throw yourself off a cliff in to a valley of deep guilt. There’s no turning back. You know there’s no way out. Yet, you don’t stop yourslef from falling in. A dangerous and secret romance. I will never know what it feels like.” (Inoue Yumiko)

Konsep monogami dalam relasi laki-laki dan perempuan selama ini tidak pernah mendapatkan tantangan berarti. Apalagi, nilai-nilai universal keagamaan dan norma-norma sosial yang diterima secara luas pada masyarakat meneguhkan keberadaan konsep monogami ini dalam konteks tertib sosial. Apa yang tidak sesuai atau berlawanan dengannya akan dilihat dalam pemahaman penyimpangan sosial.

Dorama Hirugao (2014), disutradarai oleh Nishitani Hiroshi, Nishisaka Mizuki, serta Takano Mai dan Inoue Yumiko sebagai penulis naskah, secara parsial memberikan tantangan terhadap konsep monogami dengan mengusung topik utama perselingkuhan. Menariknya, bukan sang pria yang menjadi pelaku utama, tapi kaum hawa yang lebih ditonjolkan perannya. Terminologi “Hirugao” sendiri merupakan bahasa slang yang merupakan akronim dari  “Heijitsu Hirugao Tsuma” yang bisa diterjemahkan secara bebas menjadi “ibu rumah tangga yang berselingkuh di sore hari ketika suaminya sedang bekerja.”

Adalah Sawa Sasamoto (diperankan Aya Ueto), seorang ibu rumah tangga berusia 31 tahun yang biasa-biasa saja, tidak pernah berpikiran atau punya kemauan macam-macam, tampilan yang kasual, dan mempunyai pekerjaan yang tidak terlalu berat sebagai kasir di sebuah supermarket. Perilaku, pola pikir, dan gaya hidup yang cenderung textbook ini tampak gamang ketika harus berhadapan dengan situasi faktual bahwa dia berada dalam masa-masa krisis perkawinannya. Masa krisis ini terakumulasi ketika harus diperhadapkan dengan pertanyaan tentang salah satu fungsi perkawinan: kapan mempunyai anak (keturunan)?

Di tengah kegalauan, Sawa menemui takdir yang seketika merubah pandangan hidupnya ketika berjumpa Rikako Takikawa (Michiko Kichise). Rikako dan keluarganya adalah tetangga baru Sawa. Sosok Rikako di sekitaran usia 40 tahun bukan cuma sosok ibu rumah tangga mapan dengan dua anak, tapi juga mempunyai alter ego sebagai seorang wanita yang mempunyai daya tarik seksual, matang dalam membaca pikiran dan emosi orang lain, dan juga mampu mempengaruhi orang lain, termasuk Sawa.

Kalau Sawa mempunyai seorang suami bergaya metroseksual yang berprofesi sebagai manajer penjualan produk furnitur, suami dari Rikako adalah pemimpin redaksi majalah gaya hidup dewasa yang ironisnya sedang membahas tema perselingkuhan ibu-ibu rumah tangga. Entah saking bodoh atau naifnya, suami Rikako ini tidak menyadari kalau istrinya adalah contoh kasus yang paling tepat.

Titik balik hubungan Sawa-Rikako adalah ketika selingkuhan Rikako terlibat pertengkaran dengan seorang pelajar di supermarket tempat Sawa bekerja. Rikako dengan lihai menggunakan situasi rentan Sawa yang baru saja dipergokinya mengambil lipstik dan membujuknya untuk melakukan kebohongan. Kebohongan pertama sukses, dan tak dinyana kebohongan kedua dan berikutnya juga berjalan mulus yang berangkat dari niat baik Sawa untuk mencegah kerusakan rumah tangga Rikako. Persahabatan yang tak diinginkan oleh Sawa (karena awalnya Sawa mengutuki perbuatan bejat Rikako) dan mungkin juga oleh Rikako, terjalin dalam situasi yang unik dan menegangkan.

Situasi semakin kompleks tatkala Rikako secara persuasif mampu mempengaruhi Sawa untuk terlibat dalam relasi yang bisa disebut perselingkuhan yang bagi Sawa sangat mendebarkan dan menegangkan. Persuasi Rikako bertemu dengan kerentanan suasana rumah tangganya yang suam-suam kuku. Suami Sawa digambarkan juga terlibat hubungan terlarang dengan rekan sekerjanya. Cerita perselingkuhan yang semula hanya didominasi Rikako sekarang menjadi petualangan bersama yang mengaburkan nilai-nilai moralitas karena kebahagiaan secara egoistik justru bisa diraih melalui cara ini.

Setting urban dari dorama ini secara jelas memperlihatkan kondisi dimana relasi-relasi interpersonal semakin terkikis ikatan emosionalnya. Bahkan dalam institusi sosial terkecil, keluarga, sisi emosional dan empati bisa ditekan serendah mungkin. Keberadaan komunitas masyarakat yang diharapkan memperkuat justru melahirkan tekanan-tekanan baru terhadap individu-individu yang tidak mampu memenuhi ekspektasi sosial. Struktur sosial yang renggang ini ironisnya bisa diisi dengan pencarian kebahagiaan (atau pelampiasan ketegangan) yang menabrak norma atau nilai sosial.

Menariknya, perselingkuhan yang digambarkan dalam kisah ini tidak semata menonjolkan aspek pelampiasan nafsu seksual atau semata-mata bersifat rekreatif. Dilihat dari kacamata pelaku, perselingkuhan justru secara egoistik mengisi retakan-retakan yang (bisa diperdebatkan) ada secara inheren bersama konsep monogami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: