Snouck Hurgronje

Christiaan_Snouck_Hurgronje

Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) mencatatkan dirinya sebagai suatu eksemplar dari intelektual yang berdiri di persimpangan kekuasaan dan ilmu pengetahuan. Riwayat dan perjalanan intelektualitasnya menjadi perdebatan tiada henti tentang apakah kekuasaan adalah tuan ideal bagi ilmu pengetahuan. Tapi, bagaimanapun juga, kontroversi ini seharusnya tidak meremehkan sumbangsih besarnya bagi dunia ilmu pengetahuan itu sendiri.

Studi yang mendapat banyak sumbangan dari Snouck Hurgronje diantaranya adalah studi tentang masyarakat Timur Tengah (Arab), Islam (baik di Arab maupun Indonesia), dan tentunya pendekatan kelimuan antropologis dan etnologis yang sampai saat ini masih menjadi rujukan bagi para akademisi.

Pandangan sejarah keilmuan yang simplistik, terutama yang terasa di Indonesia, cenderung menempatkan sosok Snouck Hurgronje dari sudut pandangan kontribusi ilmiahnya yang berdampak langsung terhadap kebijakan kolonial Belanda di masa Perang Aceh. Posisi ini diperkuat dengan label “Orientalis” yang akrab dengan pemahaman “superioritas Barat”. Melihat dari sudut pandang ini untuk melihat secara keseluruhan karya Snouck Hurgronje tentu sah-sah saja, tapi konsekuensinya adalah gambaran keseluruhan tentangnya tidak akan mampu didapat.

Latar belakang pendidikan Snouck Hurgronje tidaklah memberikan jawaban yang jelas terhadap apa motif pribadinya memilih studi tentang bahasa-bahasa Semit, khususnya Arab, di Leiden di bawah bimbingan Michael Jan de Goeje. Disiplin yang sebelumnya dipilih, studi teologi dan kemanusiaan, mungkin masih berkaitan dengan latar belakang keluarganya dimana ayahnya, Jacob Julianus Snouck Hurgronje, meskipun hidupnya tak lepas dari skandal pribadi, dulunya adalah pelayan di Gereja Protestan Belanda.

Karya pertamanya, dan boleh dibilang menumental di masa itu, adalah disertasinya sendiri yang dipertahankan pada tahun 1880 dengan judul “Perayaan Mekah” (Het Mekkaansche feest). Penjelasan Jan Just Witkam dari Leiden University yang mencoba untuk melihat secara ringkas disertasi Snouck Hurgronje menggambarkan pendekatan yang mirip dengan apa yang sekarang dilakukan oleh studi-studi sosiologi agama:

… tapi Snouck Hurgronje memperkenalkan gagasan revolusioner bahwa peziarahan kaum pagan pra-Islam ke Mekah dimasukkan ke dalam agama baru oleh Nabi Muhammad untuk alasan-alasan yang bersifat oportunistik dan bahwa dia memilih Ibrahim (Abraham) sebagai patriarkh pendiri Islam dikarenakan dalam Perjanjian Lama tidak terdapat teks yang ditulis oleh Abraham yang bertentangan dengan klaim Muhammad sebagai penerima terakhir firman ilahi. Di masa ini sang Nabi masih harus mempertahankan dirinya dari dua iman monotheistik yang sudah ada: Yudaisme dan Kekristenan. Proposisi Snouck Hurgronje ini memisahkan episode-episode penting dalam sejarah penting Islam dari karakteristik sakralnya dan menjadikannya hanya sebagai strategi dan politik kekuasaan. Tidak ada tempat bagi penalaran pewahyuan ilahi. Snouck Hurgronje mempertahankan pandangan ini sampai akhir hayatnya.

Pendekatan sosiologi agama sangat kental nuansanya dalam penjelasan di atas dengan posisi Snouck Hurgronje yang memisahkan secara ekstrim antara yang “sakral” dengan yang “profan”.  Bahkan, terkesan dia tidak memberi ruang sedikitpun terhadap yang “sakral”. Metode yang mirip dengan “demitologisasi” atau lebih tepat disebut “desakralisasi” ini juga bisa dikaitkan dengan mentalitas keilmuan “Orientalisme” yang menurut Edward Said merupakan posisi (keilmuan, filosofi, maupun politik) yang menerima perbedaan mendasar antara “Timur/Oriental” dengan “Barat/Oksidental” sebagai titik mula dalam melakukan karya keilmuan, konseptualisasi, penjelasan sosial, dan catatan-catatan politik. Tuduhan ini diperkuat dengan fakta bahwa pada 1881 Snouck Hurgronje belajar bersama seorang orientalis dari Prancis bernama Theodor Noldeke.

Dari pengalaman intelektual Snouck Hurgronje selama di Leiden ini justru memperkuat spesialisasi dan minatnya sebagai seorang ahli Arab dan otomatis juga sebagai seorang Islamolog. Setumpuk paper, buku, artikel, esai, dan bentuk-bentuk khusus semacam rekomendasi politik kepada pemerintah Belanda secara garis besar menyiratkan sudut pandang intelektualnya yang menjadikan Arab dan Islam di Timur Tengah sebagai referensi utamanya.

Masa paling kontroversial sekaligus juga cukup misterius adalah pengalaman hidupnya (atau mungkin lebih tepat disebut sebagai pengembaraan intelektualnya) selama kurang lebih satu tahun di tanah Arab. Tiba di kota pelabuhan Jidda pada 24 Agustus 1884. Memasuki “laboratorium keilmuannya” Snouk Hurgronje tidak menyia-nyiakan waktu belajarnya. Tugas sekaligus tantangan terbesar yang harus segera dijawabnya adalah bagaimana dinamika pan-Islamisme di Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya akan berdampak pada pemerintah Belanda.

Di tanah Arab dia memakai pakaian yang biasa dikenakan orang Arab, berbicara dengan bahasa mereka, memakai nama samaran yang akrab di telinga Arab, dan yang kontroversial adalah beragama seperti orang Arab pula (Islam). Ada beberapa pendapat yang menyimpulkan bahwa si Abdul Ghaffar dari negara tanah rendah ini benar-benar telah berpindah keyakinan, tapi ada juga asumsi lain yang mengasumsikan dia tidak tulus melakukan konversi iman seperti yang diungkapkan oleh para kolega Belandanya. Tapi karena suatu permasalahan, dia dituduh terlibat dalam pembunuhan, Snouk Hurgronje harus menghentikan petualangannya sekaligus memupuskan salah satu harapan terbesarnya untuk menyaksikan peristiwa paling religius bagi umat Islam, Haji.

Dan karyanya yang lahir dari pengalamannya di Mekah sebanyak dua jilid cukup untuk mentahbiskan dirinya sebagai intelektual terkemuka saat itu dan sekaligus menghantarkannya sebagai penasihat resmi pemerintah Belanda. Predikat ini setelah beberapa tahun setelah dia meninggalkan tanah Arab akan membawanya ke tanah Islam berikutnya yang berjarak 6.400 km dari Mekah, namun tampaknya tidak terlalu memberi kesan baginya, Aceh.

Sebelum kita meninggalkan bagian kehidupan Snouck Hurgronje di Arab, ada satu catatan penting yang harus selalu diingat. Kevin W. FOGG dari Oxford Centre for Islamic Studies mengungkapkan ini dalam tulisannya berjudul Seeking Arabs but Looking at Indonesians: Snouck Hurgronje’s Arab Lens on the Dutch East Indies yang dimuat dalam Journal of Middle Eastern and Islamic Studies (in Asia) Vol. 8 No. 1, 2014, sebagai berikut:

“…Meskipun reputasinya sebagai seorang akademisi Indonesia (atau lebih tepatnya, Hindia Timur Belanda, nama wilayah yang dikenal saat itu), Snouck Hurgronje tidak dilatih untuk fokus pada wilayah tersebut. Bahkan dia menerima doktoratnya yang membahas tentang Islam dengan Arab sebagai fokus bahasannya, dan fokus terhadap Arab ini masih tetap ada sepanjang karir keilmuannya. Snouck Hurgronje benar-benar bukanlah ahli tentang Hindia, tapi ahli Arab. Bias ini sangat penting ketika kita memikirkan berbagai kesimpulannya tentang nusantara….Mungkin karena masa yang dijalaninya di sana, atau mungkin karena pola pemikiran yang diperolehnya dari berbagai studi tekstual masa klasik, Snouck Hurgronje menulis dunia Arab sebagai pusat dan standar alami bagi Islam.”

Konteks keberadaan Snouck Hurgonje di Aceh di tengah-tengah situasi yang oleh banyak orang Belanda menyebutnya sebagai “anarkhi”. Perang Aceh (1873-1913), tercatat sebagai salah satu medan pertempuran yang membuat Belanda menderita, juga terlahir dari kondisi anarkhi, dimana upaya Belanda menciptakan kestabilan politik dan ekonomi, terutama di jalur-jalur perdagangan, menemui hambatan, begitupun upaya diplomasi malah buntu. Satu-satunya cara dalam pertimbangan mereka adalah melancarkan invasi terhadap (Kesultanan) Aceh yang dideklarasikan sejak 26 Maret 1873.

Pertama kali menjejak tanah Hindia Belanda pada tahun 1889 setelah menempuh perjalanan panjang dengan kapal Massilia, Snouck Hurgronje tampak ingin mengulangi kembali keberhasilannya dalam mengintegrasikan diri ke dalam masyarakat lokal. Masih dengan penampilan Arab, nama Arab, pembawaan yang sangat islami, bahkan dia juga menikah dengan perempuan Sunda bernama Sangkana, tentunya dengan tata cara pernikahan Islam. Van Koningsveld mencatat dalam kurun waktu 1891-1903 Snouck Hurgronje tujuh kali mengunjungi Aceh dalam kurun waktu setidaknya empat puluh bulan.  Dalam konteks masa inilah perannya dikenang oleh banyak orang sampai sekarang, dengan preferensinya masing-masing. Pihak Belanda akan memuji nasihat-nasihat Snouck Hurgronje, di sisi lain pihak Indonesia akan menghujatnya dengan berbagai alasan, terutama alasan moralitas.

Karya utamanya yang lahir dari konteks masa ini adalah dua jilid De Atjehers (1893 dan 1895) yang menggambarkan hampir seluruh dimensi kehidupan masyarakat Aceh saat itu. Dengan gaya penulisan yang sama ketika dia menggambarkan masyarakat Mekah serta posisi partisipatorisnya sebagai peneliti yang cukup unik, karya yang terbagi menjadi tujuh bab ini melengkapi nasihat-nasihatnya kepada pemerintah Kolonial dan juga menjadi dasar bagi studi tentang masyarakat Aceh dan Islam. Banyak kalangan yang melihat bahwa bab yang membahas mengenai agama (Islam) masyarakat Aceh adalah bahasan yang paling krusial, apalagi jika dikaitkan dengan bisikannya kepada penguasa kolonial saat itu.

Terkait nasihat-nasihatnya ini, tentu untuk sulit melihat dalam kerangka startegi politik dan perang, seberapa besar nasihat-nasihatnya berperan, atau berapa banyak yang diterima menjadi sebuah kebijakan resmi penguasa kolonial. Kumpulan nasihatnya seperti yang bisa kita baca dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936 yang dipublikasikan oleh Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS, 1993), setidaknya memberi gambaran bahwa rekomendasi-rekomendasi Snouck Hurgronje mempunyai intensi yang lebih jelas, bernuansa politis, dan lebih menyerupai naskah akademik atau draft kebijakan. Ini yang jelas membedakannya dari karya-karya akademisnya.

Hal penting yang banyak mendapat perhatian tentu tentang bagaimana Snouck Hurgronje melihat relasi antara agama (Islam) dan perlawanan masyarakat Aceh. Sekali lagi pembacaan dari Jan Just Witkam akan cukup membantu kita memahami inti pandangan Snouck Hurgronje:

…Dia merekomendasikan suatu perubahan drastis dari taktik: musuh yang sebenarnya bukanlah sultan yang tanpa kuasa atau para bangsawan Aceh, tapi para ulama (kaum terpelajar Islam). Sebuah upaya harus dilakukan untuk memberi ketenangan bagi mereka yang ingin bekerjasama dengan Belanda, tapi bagi mereka yang tidak ingin harus dihantam dengan keras; hanya dengan cara itu kehormatan bisa diraih. Namun, kebrutalan harus dihindari, karena bersifat kontraproduktif. Akhirnya, kebijakan-kebijakan harus disiapkan bagi pemulihan kembali ekonomi dan sosial Aceh.

Dalam perkembangan berikutnya, nasihat seperti di awal paragraf tampaknya mengalami dinamika terutama dalam tujuan mengakhiri perang secepat-cepatnya di masa Gubernur Van Heutsz. Penggunaan kekuatan penuh digunakan kepada musuh kolonial tapi di saat yang bersamaan tetap mengupayakan perbaikan-perbaikan dalam hal kesejahteraan masyarakat lokal guna memperoleh simpati mereka. Secara simbolis perlawanan Aceh berakhir pada 1903 dengan menyerahnya Sultan Aceh dan baru benar-benar mereda perlawanan di akar rumput pada 1913-1914.

Jan Just Witkam lebih jauh juga memberi kita informasi mendalam secara garis besar tentang bagaimana pandangan Snouck Hurgronje tentang kebijakan kolonial terhadap Islam seperti yang dikemukakan Snouck Hurgronje sendiri dalam pidato di hadapan para pelajar Academy for Civil Governance di Den Hague pada 1911. Snouck Hurgronje menyarankan supaya tidak mencampuri urusan-urusan yang bersifat dogmatis, juga tidak menasihatkan berbagai peraturan yang mengekang umat Islam menjalankan praktik keagamaannya. Tapi di sisi lain kebijakan kolonial menurutnya harus senantiasa waspada terhadap ide-ide yang membuat orang Barat dicap sekular, terlebih juga harus waspada dan menentang setiap gagasan pan-Islamisme.

Dari bangunan konsep kebijakan kolonial ini kita bisa menegaskan kembali satu karakter kunci seperti yang dikemukakan oleh Jan Just Witkam: sentralitas ke-Islam-an Arab, atau juga boleh kita sebut Mekah sentris. Meskipun di satu sisi ini menimbulkan bias secara akademik, dan mempunyai implikasi pada pandangan Islam Aceh yang disebutnya tidak lebih baik daripada Islam Arab, di sisi yang lain justru membawa penilaiannya terhadap dimensi religiusitas Islam yang harus dihadapi secara lunak. Bukan hanya tentang masalah dogmatika atau praktik ritual harian, tapi juga pada ritual sakral Haji. Seperti yang diungkapkan oleh Harry J. Benda dalam tulisannya Christiaan Snouck Hurgronje and the Foundations of Dutch Policy in Indonesia (1972), disebutnya kekaguman Snouck Hurgronje terhadap Arab dan Islam berdampak positif terhadap nasihatnya kepada pemerintah kolonial yang salah satunya melonggarkan kebijakan peziarahan Islam (Haji).

Setelah kembali dari tanah Aceh, Snouck Hurgronje kembali ke negeri Belanda dengan tetap melanjutkan karya dan predikat keilmuannya sekaligus juga masih memberi nasihat kepada pemerintah Belanda. Pada 1927 secara resmi dia pensiun dari Leiden dan pada 26 Juni 1936 meninggal dunia meninggalkan warisan keilmuan dan setumpuk kontroversi terkait posisi intelektual dan politisnya serta berbagai masalah moralitas yang tak terpecahkan sampai sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: