Lunchbox, Ketika Bekal Makan Siang Jadi Picisan

dabba

Mumbai, kota paling sesak dan wilayah paling padat India dengan lebih dari 18 juta penduduk, tidak hanya memperlihatkan wajah metropolitan dan arogansi modernitas India. Keberadaan berbagai pusat finansial dan keuangan serta ekonomi yang sebagian besar beroperasi lintas negara dan lintas benua tidak mampu menyembunyikan wajah komunal masyarakat India.

Secara fisik, selain bangunan-bangunan megah dengan berbagai pernak-pernik modernitas, yang mencolok mata adalah kehidupan “kumuh” yang tentu saja belum tentu dianggap “kumuh” oleh masyarakat India yang dikenal memegang teguh nilai-nilai tradisionalnya. Kumuh versi urban tentu saja disimbolkan melalui keberadaan rumah-rumah susun, apartemen sederhana, atau flat kecil yang didalamnya orang-orang yang tinggal di situ masih membawa unsur-unsur komunalnya.

Adalah Ritesh Batra (penulis dan direktor) serta Guneet Monga, Anurag Kashyap, dan Arun Rangachari (produser) yang mampu membawa satu unsur komunal masyarakat India urban ini dalam satu sinema bergenre romantis berjudul Dabba (Lunchbox) yang dirilis tahun 2013.

Jalinan narasi Lunchbox bertumpu pada tradisi pengiriman bekal makan siang bagi pekerja kantoran yang tentu saja bertentangan dengan nilai-nilai modernitas atau dunia industri yang lebih memilih makan di tempat kerja atau mengkonsumsi makanan-makanan cepat saji. Bekal makan siang ini juga kita jumpai dalam masyarakat Jepang dalam istilah bento. Bedanya jika bento biasanya dibawa sendiri oleh orangnya, bekal makan siang a la India ini diantarkan oleh kurir yang disebut Dabbawala.

Tulisan dari blogger artson berjudul “Cerita dari Mumbai – Dabbawala”, menyebutkan bahwa tradisi ini sudah ada sejak India berada di bawah kolonialisme Inggris. Orang-orang asli India yang menjadi pegawai pemerintahan meminta jatah makan yang sesuai dengan lidah mereka yang tidak bisa akrab dengan makanan barat. Akhirnya muncullah ide untuk mengantarkan menu makanan lokal ini melalui jasa Dabbawala yang konon sekarang jumlahnya mencapai lebih dari 5.000 orang.

Tugas pertama Dabbawala adalah menjemput bekal makan ini langsung dari rumah kemudian membawanya dengan diikat di sepeda angin kemudian diantarkan langsung oleh ke tempat kerja yang bersangkutan. Kecepatan dan ketepatan tentu saja menjadi krusial untuk memastikan makanan yang diantarkan masih hangat dan sampai kepada orang yang dituju. Kisah Lunchbox adalah karena kesalahan yang terakhir.

Saajan (diperankan Irrfan Khan) dan Ila (Nimrat Kaur) adalah dua orang dengan nasib yang sama. Saajan, seorang pekerja kantoran yang cukup senior, menyadari dirinya sudah melewati puncak karir dan  kehilangan motivasi hidup. Tampak sekali bagaimana karakter Saajan digambarkan sebagai pegawai kerah putih yang hanya ingin menutupi kesendiriannya. Di sisi yang lain Ila adalah seorang ibu rumah tangga muda beranak satu yang menemui problematika rumah tangga dan berjumpa dengan rutinitas yang membosankan.

Kedua tokoh ini dipertemukan oleh takdir melalui bekal makan siang yang pada suatu hari sampai ke meja Saajan. Tidak seperti biasanya, menu makan siang dalam rantang yang dipesan Saajan dari warung langganannya terasa lebih enak, bahkan sangat istimewa menurutnya. Begitu menyadari bahwa makanan istimewanya ini bukan dari warung langganannya, Saajan dengan sopan mengirim uapan terimakasih melalui secarik kertas yang diletakkan ke dalam kotak makanan. Setelah beberapa waktu, Ila juga membalas pesannya lewat cara yang sama dan begitu seterusnya sampai kisah ini tampak berakhir bahagia.

Di tengah keputusasaan kedua orang ini, mereka menemukan secercah harapan akan alternatif kehidupan yang lebih baik. Imajinasi dan hasrat terpendam mereka yang dipertukarkan lewat secarik kertas begitu ingin diwujudkan tanpa mempedulikan lagi realitas kehidupan yang telah dijalaninya. Bisa ditebak bahwa tema pembicaraan kedua orang ini berkutat pada hal yang abstrak dan absurd, tapi berusaha dicapai oleh setiap orang: kebahagiaan.

Titik balik dari film dengan budgjet US$ 1,6 juta ini terjadi di momen yang hampir bersamaan. Saajan tertegun dan ciut hatinya begitu melihat sosok Ila pertama kalinya. Ia merasa tidak layak mengejar kebahagiaan bersama Ila yang mungkin lebih tepat menjadi keponakannya. Rasa itu kemudian bercampur baur begitu ia menjumpai kehidupan sederhana rekan sekerjanya, Shaikh. Di saat yang bersamaan Ila kehilangan ayah kandungnya. Di situlah untuk pertama kalinya ia mendengar pengakuan ibunya mengenai ketidakbahagiaan yang dijalaninya.

Begitu Saajan menyampaikan keinginannya untuk mengundang Ila pergi ke tempat yang selama ini diimpikannya, tempat yang dinilai Ila penuh dengan kebahagiaan, cerita tiba-tiba menjadi chaos dan menggantung. Saajan pergi ke tempat pilihannya sendiri yang menurutnya bisa memenuhi hasrat kebahagiannya dan mengisinya dengan pemaknaan hidup mendalam. Ila yang mengejar obsesi kebahagiaannya melalui sosok Saajan kebingungan mencari dimana dia berada.

Ironisnya, ending cerita yang tidak jelas jluntrungnya ini justru menggambarkan secara tepat absurditas konsep kebahagiaan itu sendiri. Saajan dan Ila hanya merepresentasikan manusia yang berusaha mengejar kebahagiaan mereka sendiri yang seringkali disertai konsekuensi-konsekuensi ekstrim yang menimbulkan ketidakbahagiaan pihak lain. Akhirnya, proses absurd dalam mencari kebahagiaan adalah kebahagiaan itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: