The Great Hypnotist (2014): Rekonsiliasi di Alam Bawah Sadar

the-great-hypnotist-movie-review

Rekonsiliasi menjadi bahasan moral yang tak pernah ada habisnya. Baik di tingkat personal maupun publik. Dalam pemahaman lebih mendalam, rekonsiliasi bukan sekedar mendamaikan konflik batin maupun interpersonal, tapi juga menjadi tolak ukur apakah proses pembelajaran sosial pribadi atau komunitas masyarakat berhasil atau tidak.

Konsep rekonsiliasi ini juga mengingatkan kita akan bagaimana suatu komunitas bangsa-negara mengatasi trauma sejarahnya, terutama konflik-konflik yang ditimbulkan oleh sesamanya. Secara konseptual akademis kita mengenal berbagai strategi rekonsiliasi. Bangsa Afrika Selatan misalnya mencoba tetap mengingat trauma bernama politik apartheid dengan tetap menyimpan ingatan namun memaafkan kesalahannya (forgiven but not forgotten).

Sebaliknya, beberapa negara Eropa Timur menempuh strategi yang lebih keras dengan tetap mengingat dan menghukum rezim-rezim totalitarian di sana (not forgotten, not forgiven). Bangsa Indonesia sendiri tampaknya cukup “sopan” ketika harus mendamaikan hantu komunisme-nya dengan strategi rekonsiliasi samar-samar yang bahkan sulit ditentukan apakah itu faktual historis  atau tidak.

Dalam tataran individual, film The Great Hypnotist (催眠大师) yang dirilis tahun 2014 dan disutradarai oleh Leste Chen , menggambarkan mediasi sebuah proses rekonsiliasi pribadi yang bernuansa alam bawah sadar. Pendekatan psikoanalisis membantu kita untuk memahami bahwa apa yang terjadi di alam bawah sadar cukup dominan peranannya dalam perilaku sehari-hari. Inspirasi kisah seperti ini juga bisa kita temukan dalam karya M. Night Shyamalan, The Sixth Sense (1999). Bedanya, jika Sixth Sense dikemas dalam nuansa supranatural, Great Hypnotist lebih dominan unsur psikologisnya.

Genre thriller-psikologi tampaknya cukup menggambarkan kekuatan utama sinema dari Cina daratan ini yang dipadukan dengan visual efek dan sinematografi yang sangat berkualitas. Kebijakan sensor terhadap hal-hal berbau supranatural di Tiongkok tampaknya tidak terlalu berpengaruh terhadap alur cerita dan plot yang nyaris tanpa cela. Ditambah dengan double twisted ending yang memuaskan rasa penasaran para penonton film berkategori box office ini.

Great Hypnotist berkisah tentang seorang psikiater terkemuka bernama Xu Ruining (diperankan Xu Zheng) yang mungkin sedang berada dalam masa puncak karirnya. Sebagai seorang psikiater, Ruining termasuk ahli di bidang hipnotherapy yang punya catatan panjang dalam menyembuhkan orang, namun ironisnya justru gagal menyelesaikan konflik pribadinya. Terlebih, karakter Ruining digambarkan sebagai pribadi dengan ego tinggi, arogan, temperamen, dan sangat pragmatis. Ciri-ciri yang tentunya akan sulit kita temui dari seorang psikiater profesional.

Dalam suatu kesempatan, Ruining mendapat tugas dari salah satu tentor yang dihormatinya untuk menyelesaikan satu kasus “aneh” dari pasien bernama Ren Xiaoyan (Karen Mok). Predikat ini disematkan karena salah kriterianya terpenuhi: mengaku bisa melihat hantu. Sesi konseling tak direncanakan malam itu dengan Xiaoyan menjadi “neraka” bagi Ruining karena dia tidak hanya berhadapan dengan kasus pasien yang sulit untuk dipecahkan dipecahkan, tapi dia juga harus menghadapi trauma masa lalu yang terus menghantuinya.

Dengen metode hipnosis, Ruining secara perlahan bisa menyusun kepingan-kepingan puzzle dari pribadi Xiaoyan, namun ketika kepingan terakhir berusaha ditemukan, selalu gagal. Begitu berulangkali seakan-akan, ada pihak ketiga yang mengintervensi proses yang dibangunnya. Malah Xiaoyan menghadirkan mimpi buruk bagi Ruining ketika dihadapkan pada luka masa lalunya ketika dia menyebabkan kematian dua orang terdekatnya.

Tentu saja bukan memori traumatis itu yang lebih menyakitkan, karena pribadi paling rapuh pun secara perlahan akan mengembangkan resiliensi atau daya tahannya terhadap penderitaannya, namun ketika memutuskan jawaban untuk mengakhiri trauma itu.

Pendekatan psikologi sosial kontemporer memunculkan beberapa pola yang cukup menarik terkait hal ini. Bukan saja individu, tapi komunitas masyarakat dalam suatu keadaan dan tingkat tertentu tampaknya cukup “menikmati” patologi sosial yang ada pada mereka. Kemiskinan, kebodohan, ketidakhirauan, ekstrimisme, dan xenofobia misalnya secara “sadar” dijadikan status quo dan menolak setiap upaya progresif. Zona nyaman segera tercipta dan siapapun yang berusaha merubahnya akan dianggap seperti mereka yang membangunkan kita dari mimpi indah.

Metodologi hipnosis dalam sinema ini memang cukup efektif diterapkan dalam mengatasi trauma seorang individu. Dalam gambaran yang makro, masyarakat tentu tidak bisa, dalam artian moral, diperlakukan seperti ini. Banyak tudingan yang menempatkan ideologi, terutama konsumerisme, beroperasi dengan mempermainkan alam bawah sadar masyarakat. Logika yang tidak tepat tentunya jika para akademisi dan aktivis masyarakat sipil menggunakan metode serupa untuk melawan, meskipun hal tersebut katakanlah sangat efektif dan efisien. Ketaatan terhadap tradisi rasionalitas, dan kesetiaan terhadap praktik yang bermoral menjadikan kerja-kerja aktivisme tidaklah semudah menghipnosis orang .

Apalagi, jika kita mengambil pelajaran dari film The Sixth Sense dan The Great Hypnotist, maka simplifikasinya adalah mereka  yang mencoba menghipnosis dan berusaha menyembuhkan sakit pasiennya, justru merupakan pihak yang paling “sakit”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: