Sekilas tentang Pemilihan Umum Nasional Australia

6a00e54ecc070b883301b7c86e7abd970b-800wi

Australia, negara tetangga Indonesia yang terkenal akan asosiasinya dengan logo kangguru ini akan menggelar pemilihan umum nasional atau pemilihan tingkat federal pada Sabtu, 2 Juli 2016. Dinamika politik dalam negeri Australia secara umum tidak diikuti secara intensif oleh masyarakat Indonesia, namun beberapa hal terkait pelaksanaan pemilu ini cukup menarik untuk dibahas sebagai bahan pembelajaran bersama.

Dekat di mata namun jauh di hati, mungkin adalah ungkapan yang bisa menggambarkan secara tepat bagaimana perspektif masyarakat Indonesia dalam konteks pemilu Australia selama ini. Relatif dekat secara geografis namun memiliki kultur budaya yang sangat jauh berbeda adalah alasan pertama mengapa tidak timbul chemistry antar kedua masyarakat. Orientasi politik luar negeri kedua negara juga bertolak belakang. Australia dikenal  sangat kental dengan kepentingan Barat dan menjadi sekutu penting Amerika Serikat di wilayah.

Beberapa insiden diplomatik terkait relasi kedua negara juga menjadi kerikil dalam sepatu. Isu-isu separatisme, hak asasi manusia, penyadapan, dan terakhir kontroversi yang dimunculkan Perdana Menteri Australia saat itu, Tony Abbot, terkait bantuan kemanusiaan mendominasi pembahasan hubungan bilateral kedua negara.

Cukup dimaklumi juga kenapa penggunaan diksi “negara sahabat” jarang atau mungkin tidak pernah digunakan untuk menyebut Australia. Keadaan ini cukup ironis tatkala fakta di lapangan mengatakan bahwa keterkaitan kompleks antara Indonesia dengan Australia, terutama di tingkat people to people, sudah terjadi sejak lama. Tidak terhitung banyaknya mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang menjalani studi di sana, begitu pula dalam perekonomian, baik jasa, perdagangan, maupun sektor pariwisata.

Terlepas dari tidak mulusnya relasi kedua negara, dinamika politik dalam negeri Australia yang terakumulasi dalam ajang pemilu cukup menarik untuk dibahas. Dalam pemilu 2016 ini misalnya, Partai Liberal (Liberal Party of Australia) dipimpin Perdana Menteri Malcolm Turnbull bersaing ketat dengan Partai Buruh (Australian Labor Party) pimpinan Bill Shorten dalam memperebutkan 150 kursi di Dewan Perwakilan (House of representatives) dan 76 kursi senat. Kekuatan lain diluar dua partai itu meskipun tidak signifikan namun tetap diperhitungkan pengaruh politiknya: Partai Hijau (Australian Greens), Partai Katter (Katter’s Australian Party) dan partai-partai nasional serta lokal lainnya yang menjadi bagian dari 57 partai politik yang terdaftar di komisi pemilihan umum Australia (AEC).

Spektrum politik dan ideologi partai-partai yang bertarung dalam pemilu Australia 2016 ini juga lebih beragam dibandingkan komposisi partai Indonesia sekarang. Perbedaan utama dengan Indonesia tentu saja tidak adanya kelompok-kelompok partai politik berbasis agama. Di spektrum politik kanan-tengah didominasi oleh pengaruh politik Partai Liberal yang sekarang juga menguasai parlemen. Konservatif, liberal, dan anti-sosialis merupakan terminologi-terminologi politik yang bisa menjelaskan posisi mereka. Di pendulum yang berseberangan, Partai Buruh dengan corak sosialis-demokrasi a la Eropa Barat menjadi rival yang cukup setara.

Segmentasi pemilih dari kedua partai besar ini juga mengikuti perspektif ideologinya. Partai Liberal misalnya menyasar orang-orang yang punya kecenderungan konservatif dan mereka yang tertarik akan stabilitas ekonomi. Selain stabilitas ekonomi, stabilitas politik juga menjadi bahan kampanye selain isu pertumbuhan dan diversifikasi ekonomi.

Sementara itu Partai Buruh punya pemilih dan simpatisan di kelompok masyarakat pekerja dan kelas menengah. Mereka punya konsep negara-kesejahteraan yang mirip dengan apa yang diterapkan di negara-negara Eropa Barat. Salah satunya adalah program pelayanan kesehatan universal “Medicare” yang sedang macet di parlemen karena diganjal oleh Partai Liberal.

Isu-isu kontemporer juga bisa menentukan siapa pemenang ajang politik tiga tahunan ini. Tercatat dalam satu dekade terakhir ini ada tiga isu eksternal: terorisme, imigran gelap, dan pemanasan global Dua isu pertama meskipun isu global tapi juga terkait Indonesia. Warga negara dan obyek vital Australia sudah pernah menjadi korban terorisme di Indonesia. Isu terorisme dalam negeri juga semakin meningkat eskalasinya tatkala ISIS membentuk jaringan global dan memunculkan ancaman teroris dalam negeri (homegrown terrorist).

Permasalahan imigran gelap adalah isu besar bagi hubungan Indonesia-Australia. Indonesia adalah tempat transit dan jalur utama masuknya para imigran gelap ke perairan Australia. Tak terhitung sudah berapa juta dollar yang digelontorkan Australia kepada Indonesia dan negara-negara sekitarnya yang dilewati jalur imigran gelap dari Timur Tengah dan Asia Selatan ini untuk mencegah kenekatan mereka masuk ke Australia. Sampai saat ini tidak ada titik terang tentang bagaimana gelombang imigran gelap ini ditangani secara tepat.

Isu dan sentimen agama yang ramai diperbincangkan dalam dunia politik Indonesia (bahkan ketika tidak ada pemilu) tidak begitu menonjol di Australia. Hanya ketika ada isu-isu sensitif seperti rencana dilegalkannya pernikahan sesama jenis, maka kelompok-kelompok kepentingan berbasis agama muncul suaranya dan bisa menjadi faktor penentu simpati publik, seperti pada masa pemerintahan Kevin Rudd dari Partai Buruh yang pro terhadap pelegalan pernikahan sesama jenis. Seperti di Amerika Serikat, di Australia juga ada lingkaran kelompok kepentingan Kristen yang didominasi mereka yang punya perspektif politik konservatif.

Siapa partai pemenang pemilu ini sekaligus juga menentukan siapa yang akan duduk di kursi eksekutif tertinggi Australia: perdana menteri. Baik Malcolm Turnbull maupun Bill Shorten adalah sosok yang moderat dalam konteks pencitraan religiusitas mereka di depan publik. Moderat dalam pengertian ini adalah tidak berupaya mengeksploitasi secara berlebihan afiliasi keagamaan mereka menjadi bahan kampanye seperti yang terjadi di pemilu edisi sebelumnya. Posisi mereka sebagai orang yang punya afiliasi keagamaan setidaknya juga membantu publik Indonesia, yang selalu melihat keterkaitan pemimpin politik dengan afiliasi keagamaannya, dalam memahami dan mengurangi intensitas pembicaraan di masyarakat seperti pada masa Julie Gilard.

Bill Shorten (47 tahun) terlahir dan dibesarkan dalam lingkungan Katolik. Beberapa kali dia mengutip semboyan pelayanan Jesuit “to be a man for others” yang dijadikannya salah satu inspirasi utamanya. Sedangkan Malcolm Turnbull (62 tahun) punya lebih banyak hal yang bisa diceritakan terkait kehidupan religiusitasnya. Keluarganya mempunyai tradisi presbiterian yang cukup kuat, namun setelah menikah dan mengenal Katolik, dia mengalami konversi menjadi seorang Katolik.

Jumlah penduduk Australia yang berafiliasi kepada Katolik menurut sensus nasional tahun 2011 berjumlah 25,3 persen atau 5.439.268 jiwa. Afiliasi keagamaan terbesar kedua adalah Anglican yang mencapai 17,1 persen atau 3.679.907 jiwa. Jumlah mereka yang mengaku tidak berafiliasi keagamaan apapun juga cukup besar mencapai 22,3 persen atau 4.796.787 jiwa, hal ini yang mungkin mendorong kedua kandidat cukup berhati-hati dan tidak berlebihan mengeksploitasi isu-isu keagamaan.

Berbeda dengan Indonesia, angka-angka statistik ini sangat penting di Australia dalam artian bisa menjadi acuan riil saat pelaksanaan proses penghitungan suara. Sebab utamanya adalah sistem pengikutsertaan wajib (compulsory) bagi setiap warga negara berusia 18 tahun keatas untuk memilih, jika tidak memilih maka harus punya alasan yang kuat atau ia akan didenda.

Dinamika politik Australia dalam pemilu 2016 ini mungkin tidak banyak disambut secara antusias oleh masyarakat Indonesia. Berbeda dengan gaung pemilu Amerika Serikat dengan sosok kontroversialnya, Donald Trump, lebih memikat publik Indonesia. Hal ini tidak mengurangi arti penting Australia sebagai salah satu pemain penting di wilayah yang bisa menentukan geopolitik kawasan serta satu potensi peran yang belum terlihat adalah bagaimana pemilu Australia 2016 ini mampu mempromosikan nilai-nilai dan berbagai praktik demokrasi yang lebih maju bagi negara-negara tetangganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: