All About Lily Chou-Chou: Kisah Heroik dari sebuah Ketidakberdayaan

15112

Bullying, ijime, perundungan, menjadi masalah serius dari suatu masyarakat. Hal yang paling horor dari bully bukan karena dampaknya yang menciptakan lingkaran setan kejahatan, namun dari fakta bahwa hal ini menjadi bagian inheren dari sebuah sistem masyarakat modern.

Sutradara Shunji Iwai menangkap bagian kecil, namun vital, dari kengerian ini, bullying pada anak-anak sekolah yang dilakukan oleh sesama anak-anak sekolah. Bullying pada level ini secara akurat digambarkan menciptakan lingkaran kekerasan yang seolah-olah muncul secara alamiah, dan ironisnya, tidak ada satupun orang dewasa maupun sistem pendidikan atau sistem sosial masyarakat yang berdaya menghadapinya.

Yuichi (diperankan Hayato Ichihara) menjadi tokoh sentral yang menjembatani relasi tokoh-tokoh lain dalam film yang bersetting suburban ini. Yuichi Hasumi punya cerita klise yang jamak ditemukan dalam diri anak-anak seusianya. Dia baru saja masuk SMP, menjalin relasi pertemanan, flirting terhadap lawan jenisnya, berinteraksi melalui dunia maya, dan menemukan hal-hal baru menjelang puberitasnya.

Salah satu teman dekatnya adalah Shusuke Hoshino (Shugo Oshinari), prototype dari seorang anak yang cerdas, tidak banyak tingkah, namun selalu menjadi bahan ejekan karena keunggulannya tersebut. Karakter dan pembawaan Hoshino berubah drastis tatkala dia mengalami near death experience dan bangkrutnya bisnis keluarganya. Hoshino bertransformasi menjadi bad boy, mencurahkan seluruh rasa frustasi dan kegeramannya kepada teman-temannya yang dulu merendahkannya.

Tidak hanya bullying, perilaku Hoshino sudah melewati batas-batas kriminalitas. Dia mempengaruhi teman-temanya membentuk geng kriminal kecil-kecilan, termasuk Yuichi yang terlihat helpless. Dia bahkan menjerat Shiori Suda (Yu Aoi) ke dalam praktik prostitusi anak. Yoko Kuno (Ayumi Ito), seorang siswi dengan talenta musik luar biasa pun, tak lepas dari jerat Hoshino yang semakin berdarah dingin.

Masa-masa indah masa yang hampir selalu muncul dalam film-film jepang berlatar belakang kehidupan sekolah tidak nampak sama sekali. Atribut-stribut sekolah memang mendominasi, tapi narasi All About Lily Chou-Chou ini justru menampilkan sisi gelap dunia pendidikan yang tidak pernah tersentuh.

Hoshino, Yuichi, Suda, dan Kuno, sama-sama menjadi korban dalam konteksnya masing-masing. Hoshino subyek dari kebangkrutan ekonomi keluarga ditambah rasa frustasi akibat terus dilecehkan di sekolah. Hasilnya, dia berperilaku lebih jahat daripada orang-orang yang jahat kepadanya.

Sementara Yuichi menjadi model keterputusan pemahaman generasi tua terhadap generasi muda. Orangtua dan guru Yuichi tampak gagal memahami apa motif yang melatarbelakangi seorang anak dengan pembawaan kalem dan tidak banyak tingkah seperti Yuichi berani mengutil CD album artis pujaannya. Yuichi mungkin juga tidak akan pernah paham, kenapa orang-orang tua itu tidak mau melakukan apapun demi apa yang diidolainya.

Suda bernasib paling ironis dengan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun dia memperlihatkan sebuah pesan kuat bahwa di tengah absennya kontrol sekolah, perhatian keluarga, dan perhatian masyarakat, dia mampu mengembangkan resiliensi terhadap berbagai kesialan hidup yang menimpa masa remajanya. Eksploitasi seksual yang menimpanya tidak membuatnya patah arang, justru karakternya yang mampu beradaptasi dan sikap serta ketabahan yang luar biasa untuk anak seumurannya menjadikan Suda adalah true heroine dalam narasi ini.

Kuno tidak kalah heroiknya. Dilatarbelakangi oleh iri dengki dari sesama cewek di ekskul sekolah akan talenta bermusiknya, dia dijebak dan diperkosa oleh para mafia kecil ini. Namun hal ini tidak membuatnya frustasi atau trauma berlebihan. Dia kembali ke sekolah dengan menggunduli rambutnya (dalam masyarakat Jepang hal ini bisa menjadi tanda penyesalan, namun juga bisa kita artikan bentuk perlawanan)  seakan tidak terjadi apa-apa dan membawa pesan feminisme: perempuan tidak akan pernah menjadi budak siapapun.

Ketika Hoshino, Yuichi, Suda, dan Kuno tidak berdaya karena gagal dilindungi oleh sistem pendidikan, tidak dipahami oleh keluarganya, dan dipinggirkan oleh masyarakat, mereka sama-sama lari dari realitas memuakkan ini ke musik. Tampak sepele, namun fanatisme, terutama yang diperlihatkan Hoshino dan Yuichi yang mengidolakan Lily Chou-Chou setara kultus membuat mereka bisa menciptakan realitas baru. Dalam realitas baru itu, mereka menemukan ketenangan dan kedamaian yang tidak bisa mereka dapatkan dalam real life. Lily Chou-Chou bagi mereka adalah agama dan tuhan.

Pesan yang ingin disampaikan film ini singkat dan padat: akan selalu ada patologi dalam setiap sistem sosial. Sistem pendidikan misalnya selalu mempunyai dua sisi: bisa melahirkan para intelektual namun juga bisa melahirkan para monster peradaban. Penekanan bahwa cacat sosial adalah bersifat inheren dari sebuah sistem sosial selalu menjadi perdebatan akademis, namun deviasi sosial adalah fakta dan menjadi pengalaman hidup kita sehari-hari.

All About Lily Chou-Chou (2001) tidak berusaha menampilkan cerita moral atau mengajari kita bagaimana memperbaiki sistem sosial ini. Tidak ada khotbah-khotbah tentang moralitas atau teladan bagaimana melakukan purifikasi hidup baik secara eksplisit maupun implisit.

Film ini menggambarkan realitas, dalam narasi yang paling ekstrim, tentang bagaimana di tengah ketidakberdayaan sistem sosial ini, para korban berupaya menolak untuk menyerah dengan caranya masing-masing. Ada yang berusaha tegar dan bersikap masa bodoh, ada yang beradaptasi dengan segala penderitaannya, ada individu yang mencari pengungsian ke realitas lain yang diciptakannya sendiri, dan ada pula yang mengambil sikap ekstrim mengakhiri penderitaanya dengan mengakhiri hidupnya. Dalam titik ini mereka adalah pecundang sekaligus pahlawan bagi diri mereka sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: